Tradisi ziarah menjelang Ramadan dimanfaatkan warga untuk berdoa, membersihkan makam, serta menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum keluarga. Momentum ini juga menjadi bagian dari persiapan spiritual sebelum memasuki bulan puasa.
Lina (40), salah seorang peziarah, mengatakan ziarah sebelum Ramadan telah menjadi kebiasaan rutin keluarganya setiap tahun.
Husein Bangkit! Warga Bandung Sambut Antusias Penerbangan Perdana ke Yogyakarta
“Setiap mau Ramadan pasti saya ke sini. Rasanya belum lengkap kalau belum kirim doa ke orang tua. Supaya saat masuk bulan puasa hati lebih tenang dan siap beribadah,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Aziz (45) yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Ia menilai ziarah bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga sarana edukasi bagi keluarga tentang makna kehidupan.
“Kami sengaja ajak anak-anak supaya mereka ingat kakek-neneknya. Ini juga pengingat bahwa hidup itu sementara, jadi harus lebih baik lagi saat Ramadan nanti,” katanya.
Meningkatnya jumlah peziarah turut berdampak pada aktivitas ekonomi di sekitar area pemakaman. Sejumlah pedagang bunga tabur musiman mulai memadati pintu masuk TPU.
Ade (60), salah seorang pedagang, mengaku penjualannya mengalami peningkatan signifikan dibanding hari biasa.
“Alhamdulillah, sekarang pembeli naik lumayan. Kalau menjelang Ramadan memang lebih ramai. Saya jual bunga tabur mulai Rp5.000 sampai Rp10.000,” ujarnya.
Menurut Ade, ia hanya berjualan pada momen tertentu seperti menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan lainnya. Ia berharap lonjakan peziarah terus terjadi hingga mendekati awal bulan puasa.
Berdasarkan pantauan di lokasi, akhir pekan diperkirakan menjadi puncak kunjungan masyarakat yang hendak berziarah sebelum memasuki Ramadan.