ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –RS Paru Dr. A.H. Rotinsulu memperingati hari jadinya yang ke-91 dengan menggelar khitanan massal bagi masyarakat Kabupaten Garut dan sekitarnya, Jumat (13/2/2026). Sebanyak 30 anak mengikuti kegiatan tersebut secara gratis.
Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS Paru Rotinsulu, dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S(K), M.A.R.S., mengatakan kegiatan itu menjadi bentuk kepedulian rumah sakit kepada masyarakat, sekaligus wujud syukur atas perjalanan panjang institusi layanan kesehatan tersebut.
“Pada peringatan 91 tahun ini kami menggelar khitanan massal untuk 30 anak dari berbagai kecamatan di Garut. Seluruh peserta mendapatkan layanan khitan gratis serta bingkisan,” ujar Andi.
ADVERTISEMENT
Resmi Diundur! Persib vs Borneo Geser ke Maret, Maung Bandung Prioritaskan Laga Asia
Selain kegiatan sosial, pihak rumah sakit juga menyoroti tingginya angka penyakit paru, khususnya tuberkulosis (TBC), di Indonesia. Menurut Andi, Jawa Barat menjadi salah satu provinsi dengan kasus TBC tertinggi, seiring dengan jumlah penduduk yang besar.
Ia menyebut, penanganan TBC kini menjadi perhatian nasional dan masuk dalam prioritas pemerintah pusat setelah program Program Makan Bergizi Gratis.
“Program pertama pemerintah saat ini adalah Makan Bergizi Gratis, dan berikutnya fokus pada eradikasi atau pemberantasan TBC. Ini menjadi perhatian serius karena angka kasusnya masih tinggi,” katanya.
Setiap hari, Klinik Utama A.H. Rotinsulu melayani sekitar 50 pasien dengan fasilitas BPJS Kesehatan.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengakui prevalensi penyakit paru di wilayahnya masih tinggi dan membutuhkan penanganan serius. Menurutnya, kapasitas fasilitas kesehatan daerah belum sepenuhnya memadai jika hanya mengandalkan rumah sakit yang ada di Garut.
“Prevalensi penyakit paru di Garut cukup tinggi, dengan tingkat keparahan yang juga berat. Dukungan pemerintah pusat melalui keberadaan rumah sakit ini sangat membantu pelayanan kepada masyarakat,” ujar Syakur.
Ia juga meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Garut untuk lebih intensif melakukan edukasi kepada masyarakat terkait penyakit paru, mengingat TBC merupakan penyakit menular dan menjadi salah satu penyebab kematian.
Sementara itu, Diana Maryana (35), warga Kampung Cireundeu, Kecamatan Karangpawitan, mengaku terbantu dengan adanya khitanan gratis tersebut. Putranya, Muhammad Rafa Rifa’i, menjadi salah satu peserta.
“Saya sangat bersyukur dan terbantu, apalagi kondisi ekonomi sedang sulit. Terima kasih kepada RS Paru Rotinsulu yang sudah membantu anak saya,” ujar Diana.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






