ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Penumpukan sampah di Pasar Ciwastra, Kota Bandung, mulai mengganggu aktivitas jual beli. Aroma menyengat dan kondisi lingkungan yang kotor membuat sebagian pembeli enggan masuk ke area pasar tradisional tersebut.
Masalah sampah di Pasar Ciwastra ini disebut berdampak langsung pada pendapatan pedagang. Tumpukan sampah yang belum terangkut menyebabkan bau tidak sedap menyebar ke sejumlah titik lapak.
Hendra (36), salah seorang pedagang Pasar Ciwastra, mengaku omzetnya menurun akibat kondisi tersebut.
ADVERTISEMENT
“Dampaknya terasa sekali. Kalau sampah menumpuk dan baunya menyengat, pembeli jadi pikir-pikir lagi mau masuk ke pasar,” ujar Hendra saat ditemui, Kamis (12/2/2026).
Exit Tol KM 149 Gedebage Belum Beroperasi, Warga Bandung Timur Keluhkan Akses Masih Menganggur
Menurut Hendra, keluhan pembeli paling sering berkaitan dengan bau menyengat dan banyaknya lalat yang berkerumun di sekitar area penampungan sampah.
Kondisi terburuk biasanya terjadi pada pagi hari. Sampah yang menumpuk sejak malam belum diangkut sehingga aroma tak sedap semakin kuat.
“Biasanya paling parah itu pagi-pagi sebelum sampah diangkut. Apalagi kalau lagi panas atau habis hujan, makin nyengat dan becek,” katanya.
Saat cuaca panas, bau sampah semakin tajam. Sementara setelah hujan, air bercampur limbah membuat lantai pasar becek dan licin, menambah ketidaknyamanan pembeli.
Hendra menilai penanganan sampah di Pasar Ciwastra belum maksimal karena jadwal pengangkutan yang tidak rutin. Akibatnya, sampah menggunung sebelum petugas datang ke lokasi.
Untuk mengurangi dampak yang lebih parah, para pedagang berinisiatif menjaga kebersihan lapak masing-masing dengan mengemas sampah dalam karung atau plastik agar tidak berserakan.
“Kalau dari pedagang mah paling kita berusaha jaga lapak masing-masing. Sampah dikumpulin dulu di karung atau plastik, jangan sampai berserakan,” ujarnya.
Pedagang berharap ada perbaikan sistem pengelolaan sampah di Pasar Ciwastra agar aktivitas jual beli kembali normal dan kenyamanan pembeli dapat terjaga. Jika persoalan ini terus berlarut, dikhawatirkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar tradisional akan semakin menurun.(Dafi/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






