KORANMANDALA.COM – Masjid Lautze 2 Bandung terus menguatkan perannya sebagai pusat pembinaan mualaf di Kota Bandung. Sejak 2017 hingga 10 Februari 2026, masjid yang berlokasi di Jalan Tamblong tersebut telah membina 352 mualaf dengan latar belakang yang beragam, termasuk warga negara asing.
Ketua DKM Masjid Lautze 2 Bandung, Rahmat Nugraha (55), yang akrab disapa Koko Rahmat, mengatakan jumlah mualaf yang bersyahadat di masjid tersebut terus bertambah setiap tahun.
“Sejak 2017 ada 28 orang, 2018 sebanyak 32, 2019 ada 48, 2020 sebanyak 31 orang, 2021 juga 31, 2022 ada 40, 2023 sebanyak 49, 2024 ada 31, tahun 2025 sebanyak 55 orang, dan per 10 Februari 2026 sudah enam orang. Totalnya 352 orang,” ujar Rahmat saat ditemui, Senin (10/2/2026).
Ia mengungkapkan, dalam dua hingga tiga bulan terakhir terjadi peningkatan mualaf dari luar negeri, khususnya Korea Selatan.
“Beberapa bulan terakhir cukup banyak dari luar negeri, mayoritas dari Korea Selatan. Sebagian besar karena akan menikah dengan pasangan warga Indonesia,” katanya.
Rahmat menegaskan, proses pengucapan syahadat di Masjid Lautze 2 dilakukan secara sederhana dan tidak berbelit.
“Kami berusaha mempermudah, bukan mempersulit. Prinsipnya membantu mereka menjalani proses dengan tenang dan nyaman,” ujarnya.
Setelah bersyahadat, para mualaf mengikuti pembinaan berjenjang yang telah disiapkan pengurus masjid. Setiap Minggu pagi digelar kelas pembinaan mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, dilanjutkan kelas tahsin Al-Qur’an dengan beberapa tingkatan, serta kajian akidah yang juga dilakukan secara daring.
Tak hanya pembinaan spiritual, Masjid Lautze 2 juga melakukan pemberdayaan ekonomi bagi para mualaf.
“Kami libatkan mereka dalam berbagai kegiatan, termasuk saat Ramadan di dapur umum untuk menyiapkan takjil dan makanan berbuka. Ini bagian dari penguatan mental dan kebersamaan,” kata Rahmat.
Selama Ramadan, masjid tersebut menyediakan sekitar 700 hingga 1.000 paket takjil per hari serta 200 hingga 250 paket makanan berbuka puasa. Dukungan kegiatan sosial ini, lanjut Rahmat, juga datang dari berbagai kalangan, termasuk non-Muslim.
“Banyak yang mendukung, termasuk dari lintas agama. Ini menunjukkan masjid bisa menjadi ruang kebersamaan dan memberi manfaat bagi semua,” ujarnya.
