ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah hiruk-pikuk Jalan Tamblong, kawasan pusat Kota Bandung, berdiri sebuah ruko bercat merah dengan ornamen khas Tionghoa. Dari luar, bangunannya tampak sederhana.
Namun di dalamnya, Masjid Lautze 2 Bandung tumbuh bukan sekadar sebagai tempat ibadah, melainkan ruang hijrah, pusat pembinaan mualaf, sekaligus simbol akulturasi budaya dan persaudaraan lintas iman.
Ketua DKM Masjid Lautze 2 Bandung, Rahmat Nugraha (55), yang akrab disapa Koko Rahmat, menuturkan bahwa masjid ini merupakan bagian dari sejarah panjang dakwah di kawasan Pecinan.
ADVERTISEMENT
Masjid Lautze 2 menginduk pada Masjid Lautze 1 Jakarta yang berdiri pada 12 Januari 1991 dan dikenal sebagai ruang pembinaan bagi warga keturunan Tionghoa yang ingin mengenal Islam.
“Visi awalnya memang untuk menjembatani teman-teman keturunan Tionghoa yang ingin belajar Islam atau tertarik mengenal Islam. Karena masjid ini berdiri di lingkungan Pecinan,” ujar Koko Rahmat, Selasa (11/2/2026).
Pada 12 Januari 1997, Masjid Lautze 2 mulai menyewa ruko kecil berukuran 6 x 9 meter di Jalan Tamblong Nomor 27. Namun pada masa awal hingga sekitar 2016, aktivitas masjid masih terbatas.
“Dulu masjid ini cenderung tertutup, bukan dalam arti eksklusif secara ideologi, tapi secara fisik. Pintu sering tertutup, hanya untuk salat zuhur dan asar, karena lingkungan sekitar mayoritas perkantoran,” jelasnya.
Transformasi Menuju Masjid Terbuka dan Inklusif
Perubahan besar terjadi pada 2017 saat kepengurusan baru berupaya menjadikan Masjid Lautze 2 sebagai masjid yang terbuka dan inklusif.
“Kami ingin masjid ini menjadi masjid rahmatan lil alamin. Sejak itu, salat lima waktu dibuka, masjid terbuka untuk umum, dan suasana dibangun agar lebih membaur,” kata Koko Rahmat.
Masjid ini tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan mualaf yang datang dari beragam latar belakang. Di sinilah proses belajar, pendampingan, dan penguatan akidah dilakukan secara personal dan kekeluargaan.
Keunikan Masjid Lautze 2 juga tercermin dari budaya sapaan yang khas. Seluruh jamaah laki-laki dipanggil “Koko” dan perempuan dipanggil “Cici”, tanpa memandang suku, ras, maupun latar belakang.
“Sejak 2017, kami sepakat memanggil Koko dan Cici. Tidak melihat sipit atau tidak, tidak melihat suku dan golongan. Yang penting kita saudara,” tuturnya.
Sapaan tersebut menjadi simbol bahwa masjid ini ingin meruntuhkan sekat-sekat identitas dan membangun rasa kebersamaan.
Dibangun dengan Semangat Lintas Iman
Sebagai bangunan yang masuk kategori cagar budaya, Masjid Lautze 2 tidak dapat ditingkatkan ke atas, melainkan hanya diperluas ke samping. Proses pembebasan dan pengembangan bangunan menjadi cerita tersendiri yang sarat nilai toleransi.
“Yang luar biasa, wakaf pembebasan bangunan ini bukan hanya dari Muslim, tapi juga dari non-Muslim. Ada dari pengusaha Tionghoa, komunitas Katolik, dan berbagai elemen lintas agama,” ungkap Koko Rahmat.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan Masjid Lautze 2 tidak hanya diterima, tetapi juga didukung oleh berbagai kalangan.
Di tengah dinamika sosial perkotaan, Masjid Lautze 2 ingin terus hadir sebagai ruang aman bagi siapa pun yang datang, baik untuk beribadah maupun sekadar berdialog.
“Masjid ini ingin menjadi rumah bersama. Untuk urusan iman tentu ada batasnya, tapi untuk kemanusiaan dan sosial, pintu kami terbuka,” pungkasnya.
Di jantung kota yang terus bergerak cepat, Masjid Lautze 2 Bandung menjadi pengingat bahwa keberagaman dan persaudaraan dapat tumbuh berdampingan, bahkan di ruang yang sederhana sekalipun.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






