ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Praktik pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jalan Gang Raden Jibja, Kelurahan Cicaheum, Kota Bandung, menjadi sorotan warga.
Mobil pengangkut MBG disebut tidak masuk ke area sekolah dan hanya berhenti di tepi jalan utama karena akses gang yang sempit. Akibatnya, pengambilan makanan dilakukan oleh orang tua murid secara bergiliran.
Seorang warga setempat, FA (38), mengungkapkan bahwa distribusi tidak dilakukan langsung ke lingkungan sekolah.
ADVERTISEMENT
“Mobil MBG-nya cuma nunggu di depan jalan raya. Yang ngambil orang tua murid, dijadwal bergiliran,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan soal mekanisme distribusi, mengingat program MBG bertujuan mempermudah akses makanan bergizi bagi peserta didik.
Menanggapi hal itu, Ketua SPPG TK Cicaheum, Rinaldi, menjelaskan bahwa mekanisme distribusi telah disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kesepakatan yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU).
Ia juga menyinggung persoalan insentif yang belum terealisasi karena kendala administratif pada rekening yang digunakan untuk penyaluran dana.
“Memang ada kendala di rekening dan kami sedang mengusahakan itu. Sesuai juknis, tidak setiap sekolah dengan jumlah siswa di bawah 100 mendapat Rp20.000 per hari. Insentif itu diberikan per dua minggu,” kata Rinaldi saat diwawancarai, Rabu (11/2/2026).
Saat ditanya terkait kepastian waktu pencairan, Rinaldi menyebut prosesnya masih dalam tahap penyelesaian.
“Kami masih mengusahakan. Rekening yang bermasalah adalah rekening MBG Mandiri, bukan rekening BGN. Ini pihak ketiga,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah TK Cicaheum, Lia Juliyah (56), memberikan klarifikasi terkait beredarnya foto seorang anak yang terlihat membawa ompreng (wadah makanan) ke jalan. Ia menilai hal tersebut dipicu miskomunikasi dan kesalahpahaman.
“Kalau mungkin ini karena miskomunikasi, karena mungkin hanya selintas melihat ada anak yang membawa. Padahal itu seizin orang tuanya sambil bercanda,” ujarnya.
Menurut Lia, foto tersebut menimbulkan persepsi seolah-olah pihak sekolah membiarkan anak mengambil makanan tanpa pendampingan.
“Karena difoto kelihatannya anaknya tanpa orang tua, jadi kesannya seperti disuruh oleh sekolah. Tolong ini diklarifikasi. Nama kami jangan sampai jadi jelek. Kami membangun sekolah ini dengan perjuangan yang berat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa persoalan tersebut telah dibicarakan dengan pihak SPPG dan diharapkan tidak berkembang menjadi polemik yang merugikan sekolah.
“Sudah ada penyelesaiannya dengan pihak SPPG. Jangan sampai masalah seperti ini berdampak ke kami,” pungkasnya.
Pihak sekolah dan SPPG menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap mekanisme distribusi MBG agar ke depan berjalan lebih tertib, transparan, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






