ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Masjid Lautze 2 Bandung kembali menjadi saksi lahirnya kisah hijrah yang menyentuh hati. Seorang wisatawan asal Afrika berinisial SS (47) resmi memeluk agama Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid yang berlokasi di Jalan Tamblong, Kota Bandung, Selasa (11/2/2026).
Prosesi berlangsung khidmat. Disaksikan pengelola masjid dan sejumlah jamaah, SS mengucapkan syahadat dengan suara mantap. Seusai prosesi, raut haru tak mampu ia sembunyikan. Namun di balik itu, terpancar ketenangan yang dalam.
“This is a new life for me. I feel excited. It feels like starting something new, learning something new,” ujar SS.
ADVERTISEMENT
Tempat Senja Cimekar Bandung Timur Jadi Favorit Warga, Sajikan Panorama Masjid Raya Al Jabbar
Baginya, keputusan tersebut bukan langkah spontan. Ia menyebut perpindahan keyakinan itu sebagai perjalanan batin panjang yang membawanya pada kedamaian.
“Changing religion, especially from Christian to Islam, for me is like being born again. It’s a new chapter, and I feel peaceful,” ungkapnya dengan senyum lega.
Perjalanan Spiritual yang Tidak Singkat
Pengelola Masjid Lautze 2 Bandung, Rahmat Nugraha (55) atau yang akrab disapa Koko Rahmat, mengatakan bahwa prosesi hari itu bukan hanya tentang satu orang. Tercatat, ada lima orang yang mengucapkan syahadat pada hari yang sama.
“Dengan demikian, total mualaf yang telah dibina Masjid Lautze 2 mencapai 352 orang,” jelasnya.
Masjid Lautze 2 selama ini dikenal sebagai pusat dakwah dan pembinaan mualaf di Kota Bandung. Dengan arsitektur bernuansa Tionghoa, masjid ini menjadi simbol akulturasi budaya dan spiritualitas yang terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar.
Menurut Koko Rahmat, setiap prosesi syahadat memiliki dinamika spiritual yang berbeda. Namun satu hal yang selalu sama adalah pencarian akan ketenangan.
“Dalam ajaran Islam, orang yang hijrah itu seperti bayi yang baru lahir. Bersih dan memulai kehidupan dengan lembaran baru,” tuturnya.
Tantangan Dimulai Setelah Syahadat
Ia menegaskan, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah seseorang resmi memeluk Islam. Proses belajar dan pembinaan menjadi kunci agar keimanan tetap terjaga.
“Kedamaian ini jangan sampai hilang begitu saja. Caranya adalah terus belajar, belajar, dan belajar. Proses belajar inilah yang akan menguatkan iman,” ujarnya.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, prosesi ditutup dengan doa bersama. Bagi pengelola masjid, setiap mualaf bukan sekadar angka statistik, melainkan perjalanan jiwa yang patut dirawat.
“Kami selalu mendoakan agar para mualaf istiqamah, hingga kelak mampu membangun keluarga Islam yang sakinah, mawaddah, wa rahmah,” ucap Koko Rahmat.
Di Masjid Lautze 2 Bandung, hijrah bukan sekadar seremoni. Ia adalah cerita tentang pencarian, keberanian, dan harapan untuk memulai hidup dari lembaran baru.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






