ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di balik hiruk-pikuk jalanan Kota Bandung, Ahmad (56) masih setia duduk di atas sepeda motornya, menunggu notifikasi pesanan masuk.
Jam kerja yang kian panjang tak lagi menjamin penghasilan yang cukup. Namun bagi Ahmad, berhenti bukanlah pilihan.
“Kalau kita enggak narik, kompor di rumah mau gimana nyalanya kalau enggak ada uang,” ujarnya lirih, Selasa (10/2/2026).
ADVERTISEMENT
Kos Transit di Bandung: Ruang Abu-Abu Hunian di Kawasan Pendidikan
Ahmad mengaku, hari-harinya kini lebih banyak dihabiskan untuk menunggu orderan dibandingkan mengantarkan penumpang.
Persaingan antar-pengemudi yang semakin ketat membuat pendapatan harian terus menurun, sementara kebutuhan hidup tak pernah ikut turun.
Di tengah kondisi tersebut, Ahmad juga dihadapkan pada dilema sistem aplikasi. Pembatalan pesanan, meski kerap terjadi bukan karena kesalahan pengemudi, justru berimbas pada performa akun.
“Kalau saya di-cancel, justru pendapatan makin menurun. Akun jadi jelek,” katanya.
Soal tarif, Ahmad menilai kebijakan yang berlaku saat ini semakin jauh dari rasa keadilan. Ongkos perjalanan, menurutnya, tak lagi sebanding dengan biaya operasional yang terus naik, terutama bahan bakar.
Ia mencontohkan, perjalanan dari kawasan Trans Studio Mall (TSM) menuju daerah Siliwangi hanya dihargai Rp8.000.
“Kalau dilihat ngeri juga. Masalah bensin makin terasa. Mau narik lagi jadi kepikiran terus soal bensin,” ujarnya.
Belum lagi potongan yang diambil pihak aplikasi. Ahmad menyebut, pada Selasa pagi, pendapatannya terpotong hingga Rp11.000. Bagi pengemudi seperti dirinya, angka tersebut sangat berarti.
“Kalau sudah dapat sepuluh ribu, istilahnya itu langsung diambil. Padahal uang segitu biasanya langsung dikasihkan ke orang rumah,” katanya.
Kisah Ahmad mencerminkan realitas banyak pengemudi ojek online di Bandung yang terjebak dalam sistem kerja tanpa jam pasti, pendapatan tak menentu, dan beban biaya yang terus meningkat. Di tengah janji fleksibilitas ekonomi digital, para pengemudi justru dipaksa bertahan dengan kondisi yang semakin menekan.(Dafi/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






