ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung menggelar Bazar Pangan Murah (BAZMUT) di halaman Kantor Kecamatan Ujung Berung, Jalan Alun-Alun Utara No. 211, Senin (9/2/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini digelar untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menstabilkan harga pangan di pasaran.
Dalam pelaksanaannya, Disdagin melibatkan Forum Bulog Kota Bandung sebagai pelaksana teknis distribusi. Sejumlah komoditas strategis disalurkan dalam jumlah besar guna memastikan ketersediaan stok bagi warga.
Adapun komoditas yang disediakan antara lain minyak goreng sebanyak 800 kardus, masing-masing berisi 12 liter, dengan harga Rp15.500 per liter. Selain itu, disalurkan beras subsidi pemerintah (SPHP) sebanyak 250 karung ukuran 5 kilogram seharga Rp68.000 per karung, serta beras premium sebanyak 50 karung seharga Rp73.500 per karung. Produk lain yang turut dijual yakni tepung terigu merek Tulip seharga Rp8.500 per kemasan dan gula pasir sebanyak 10 dus dengan harga Rp16.500 per pak.
ADVERTISEMENT
Jukir Liar Marak di Minimarket Bandung, Pemerintah Seakan Tutup Mata
Petugas Forum Bulog Kota Bandung, Satria (35), menegaskan bahwa operasional BAZMUT di Kecamatan Ujung Berung murni merupakan penugasan dari Disdagin dan tidak berorientasi pada keuntungan.
“Ini penugasan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian, bukan untuk mencari keuntungan. Kalau barang belum habis saat kegiatan selesai, akan dikembalikan ke gudang untuk stok kegiatan berikutnya. Kami tidak mengejar target penjualan, yang terpenting membantu menstabilkan harga pangan,” ujar Satria.
Meski pasokan disiapkan dalam jumlah besar, hingga siang hari sejumlah komoditas terlihat belum habis terjual. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap selektif dalam berbelanja meskipun bazar murah digelar oleh pemerintah.
Salah seorang warga, Rita (42), menilai selisih harga tetap menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat dalam menentukan tempat berbelanja.
“Tadi sempat cek harga pasar juga. Kalau selisihnya cuma Rp500 atau Rp1.000, ibu-ibu tetap pilih yang paling murah. Selisih seribu perak itu berharga, bisa buat nambah beli kebutuhan lain,” katanya.
Menurut Rita, komoditas yang kurang diminati bukan berarti tidak dibutuhkan. Ia menduga sebagian warga masih memiliki stok di rumah atau harga di pasar tradisional sedang lebih kompetitif.
“Kalau ada yang kurang diminati, bukan berarti enggak butuh. Bisa jadi stok di rumah masih ada, atau memang harga di pasar lagi lebih murah,” pungkasnya.
(Luqman Dwirizal Arifin/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






