KORANMANDALA.COM –Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) yang memanfaatkan trotoar kembali marak di sejumlah kawasan pusat Kota Bandung dalam beberapa pekan terakhir. Trotoar yang seharusnya digunakan pejalan kaki kini berubah fungsi menjadi area berjualan, terutama pada sore hingga malam hari.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi tersebut terlihat di beberapa titik strategis seperti kawasan Asia Afrika, Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Jalan Surapati, hingga sejumlah kawasan keramaian lainnya. Para pedagang menjajakan berbagai jenis dagangan, mulai dari makanan dan minuman hingga produk kebutuhan sehari-hari.
Keberadaan lapak di atas trotoar membuat ruang bagi pejalan kaki semakin terbatas. Situasi ini terasa semakin padat saat akhir pekan dan hari libur, ketika arus warga dan wisatawan meningkat. Pejalan kaki pun kerap harus berbagi ruang dengan lapak dagangan yang memenuhi jalur pedestrian.
Tak Hanya Urus Listrik, PLN Bandung Turun Berbagi untuk Yatim dan Dhuafa
Bagi para pedagang, trotoar dinilai sebagai lokasi yang strategis karena ramai dilalui masyarakat dan wisatawan. Selain itu, keterbatasan akses terhadap tempat usaha yang terjangkau menjadi salah satu alasan mereka memilih berjualan di ruang publik.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait, seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), diketahui rutin melakukan penertiban terhadap PKL yang berjualan di trotoar. Namun, setelah penertiban dilakukan, aktivitas serupa kerap kembali muncul di waktu berikutnya.
Selain mengganggu kenyamanan pejalan kaki, keberadaan PKL di trotoar juga berdampak pada arus lalu lintas di sejumlah titik. Pada jam-jam ramai, kendaraan kerap berhenti atau parkir di depan lapak pedagang, sehingga menghambat kelancaran lalu lintas di ruas jalan sekitar.
Fenomena ini menunjukkan perlunya solusi jangka panjang dalam pengelolaan ruang publik di Kota Bandung, agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kenyamanan dan keselamatan warga.
(Yusuf/MG)
