ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Kurangnya kesadaran orang tua dalam mengenali gejala gangguan kesehatan mental pada anak masih menjadi persoalan utama yang justru memperburuk kondisi psikologis mereka. Anak yang seharusnya mendapatkan dukungan emosional kerap malah menerima label negatif, bahkan dari lingkungan terdekatnya sendiri: keluarga.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Stephani Raihana Hamdan, S.Psi., M.Psi., menilai banyak orang tua gagal membaca sinyal awal bahwa perubahan perilaku anak merupakan tanda anak sedang membutuhkan pertolongan.
“Yang sering terjadi, orang tua tidak aware bahwa anak itu butuh ditolong. Anak dinilai tidak sesuai harapan, dianggap malas, lalu orang tua menunjukkan kekecewaan bahkan kemarahan. Padahal itu tidak membuat anak membaik, justru mentalnya semakin jatuh,” ujar Stephani.
ADVERTISEMENT
Ramadhan di Kampung Cina: Iftar Bernuansa Budaya di Jantung Kota Bandung
Menurutnya, perubahan rutinitas harian anak seharusnya menjadi alarm serius bagi orang tua. Anak yang sebelumnya ceria bisa berubah menjadi murung, menarik diri, sulit tidur, enggan belajar, hingga kehilangan nafsu makan.
“Ketika rutinitas anak mulai tidak sehat, itu tanda yang harus direspons. Yang tadinya mau cerita jadi diam, yang tadinya ceria jadi murung, susah tidur atau susah bangun. Orang tua harus peka terhadap perubahan-perubahan ini,” jelasnya.
Stephani menegaskan, kesalahan yang kerap terjadi adalah respon emosional orang tua yang justru memperparah tekanan psikologis anak. Alih-alih dirangkul, anak malah dihakimi.
“Dirangkul itu artinya didekati, diajak ngobrol, ditanya dengan cara yang baik. Ada apa, sejak kapan, apa yang membuat tidak nyaman. Jangan dengan nada marah atau penuh kekecewaan, karena itu justru membuat anak makin tertekan,” katanya.

Menurutnya, anak yang sedang mengalami gangguan mental membutuhkan rasa aman, bukan tuntutan, apalagi kemarahan. Ketika keluarga gagal menjadi ruang aman, anak cenderung menutup diri dan mencari pelarian yang tidak sehat.
Selain peran keluarga, Stephani juga menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua dan sekolah. Banyak kasus gangguan mental anak berakar dari masalah di lingkungan sekolah yang tidak diketahui orang tua.
“Orang tua perlu berkomunikasi dengan guru dan pihak sekolah. Bisa jadi ada kejadian di sekolah, seperti perundungan, yang tidak diketahui orang tua,” ujarnya.
Komunikasi yang terbuka, lanjut Stephani, akan mempermudah identifikasi sumber masalah dan mencegah kondisi anak memburuk.
Jika upaya keluarga dan sekolah tidak menunjukkan perbaikan, Stephani menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab.
“Kalau sudah dicoba oleh orang tua dan sekolah tapi kondisi anak semakin memburuk, maka perlu datang ke ahli, seperti psikolog. Dengan pendekatan ilmiah, masalah bisa diidentifikasi dan diberikan intervensi yang sesuai,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






