ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Masalah kesehatan mental anak sekolah di Kota Bandung kian mengkhawatirkan. Sebanyak 10 ribu siswa tercatat mengalami gangguan kesehatan mental sepanjang 2025, berdasarkan survei Dinas Kesehatan Kota Bandung terhadap siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Data tersebut diungkap langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat meninjau kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 70 Kota Bandung, Jumat (6/2/2026).
“10.000 siswa mengalami masalah kesehatan mental,” ujar Farhan.
ADVERTISEMENT
Ramadhan di Kampung Cina: Iftar Bernuansa Budaya di Jantung Kota Bandung
Farhan menegaskan, gangguan kesehatan mental bukan persoalan sepele karena berdampak langsung pada konsentrasi belajar, kinerja akademik, hingga perkembangan sosial anak. Menurutnya, persoalan ini harus ditangani secara serius dan kolaboratif.
“Jumlah tersebut terdiri dari anak usia sekolah hingga usia produktif. Ini merupakan hal yang harus kita atasi bersama, karena gangguan mental sangat memengaruhi kinerja,” katanya.
Psikolog: Tren Ini Sudah Mengkhawatirkan Sejak 10 Tahun Terakhir
Menanggapi temuan tersebut, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), Stephani Raihana Hamdan, S.Psi., M.Psi., menyebut lonjakan gangguan kesehatan mental pada anak bukan fenomena baru, namun kini berada pada titik yang semakin mengkhawatirkan.
“Dari sisi psikologi, tren kesehatan mental anak memang semakin memprihatinkan. Dalam sekitar sepuluh tahun terakhir, kasusnya terasa jauh lebih berat,” ujar Stephani, Sabtu (7/2/2026).
Ia menekankan, banyak anak yang sejatinya tidak memiliki masalah intelektual, bahkan tergolong cerdas, namun akhirnya mengalami gangguan psikologis akibat tekanan yang tidak tertangani.
“Banyak anak sebenarnya punya kemampuan rata-rata hingga baik. Tapi karena tekanan psikologis, akhirnya muncul masalah, terutama di ranah emosi dan sosial,” katanya.
Kecemasan, Depresi, hingga Salah Kaprah “Anak Malas”
Stephani menjelaskan, gangguan yang paling dominan ditemukan berada pada gangguan emosi, terutama kecemasan dan depresi. Sayangnya, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai kemalasan.
“Anak terlihat tidak mau sekolah, murung, tidak mau belajar. Kesannya malas. Padahal setelah digali, mereka mengalami stres berat, bahkan sudah mengarah ke depresi ringan,” jelasnya.
Ironisnya, anak-anak tersebut bukanlah anak berkebutuhan khusus.
“Kalau dites, mereka cerdas. Bukan anak bermasalah secara potensi. Tapi tekanan membuat mereka tidak berfungsi optimal,” ujarnya.
Adiksi Gawai dan Media Sosial Jadi Bom Waktu
Selain gangguan emosi, Stephani juga menemukan lonjakan gangguan adiksi, terutama adiksi online seperti game dan media sosial.
“Adiksi online sangat banyak. Anak marah kalau handphone diambil, malas sekolah, tidak mau mengerjakan tugas,” katanya.
Menurutnya, gawai kerap menjadi pelarian anak dari tekanan sosial, termasuk perundungan (bullying) dan cyber bullying.
“Anak lari ke handphone karena tidak kuat menahan tekanan. Itu bentuk coping yang tidak sehat,” ujarnya.
Ia menilai screen time berlebihan menjadi salah satu akar persoalan terbesar gangguan mental anak saat ini.
“Kalau boleh jujur, banyak kasus berawal dari screen time. Paparan digital ini sangat kuat pengaruhnya,” tegas Stephani.
Konten yang tidak sesuai usia, algoritma media sosial, hingga lemahnya kontrol membuat anak terpapar kekerasan verbal, perilaku toxic, bahkan konten dewasa.
“Handphone tidak tahu siapa yang menonton. Anak bisa terpapar kata-kata kasar, perilaku agresif, bahkan pornografi,” katanya.
Anak Cerdas Jadi Underachiever
Dampak gangguan mental ini tidak hanya terasa pada psikologis, tetapi juga prestasi akademik dan kemampuan sosial. Stephani menyebut banyak anak akhirnya menjadi underachiever—memiliki potensi tinggi, tetapi prestasinya jauh di bawah kemampuan.
“Anak tidak bisa mengikuti pembelajaran secara optimal, padahal seharusnya dia bisa,” ujarnya.
Secara sosial, stres berkepanjangan membuat anak sulit membangun relasi, bekerja sama, dan berempati.
“Anak jadi menarik diri, murung, tidak mau sekolah. Akhirnya kehilangan kesempatan belajar bersosialisasi,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






