ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –  Minimnya perhatian pemerintah terhadap atlet berprestasi kembali mencuat. Siti Nur Rahayu (22), atlet rugby dan karate asal Kabupaten Garut, baru mendapat perhatian serius dari pihak terkait setelah kondisi kesehatannya viral di media sosial.
Siti Nur Rahayu, yang akrab disapa Yayu, merupakan atlet asal Kampung Seni Baru, Jayawaras, Kabupaten Garut. Sejak 2021, ia memantapkan diri untuk fokus menekuni cabang olahraga rugby setelah sebelumnya juga aktif di karate.
Namanya sempat mengharumkan daerah asalnya saat memperkuat tim rugby pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 di Sumatera Utara. Namun, prestasi tersebut tidak berbanding lurus dengan perhatian yang diterimanya setelah mengalami kondisi kesehatan serius.
ADVERTISEMENT
Sisi Gelap Apartemen Transit di Bandung, Maraknya Prostitusi Daring
Saat ini, Yayu terbaring lemah akibat pecah usus yang mengharuskannya menjalani operasi besar. Dalam tindakan medis tersebut, dokter melakukan kolostomi atau pelubangan pada bagian perut untuk membantu pembuangan sisa pencernaan.
Selama masa sakit, keluarga Yayu mengaku harus berjuang sendiri untuk menanggung biaya pengobatan. Bantuan yang diterima lebih banyak berasal dari kepedulian saudara dan tetangga sekitar. Tidak terlihat adanya pendampingan intensif dari pihak terkait, termasuk organisasi olahraga.
Kisah pilu atlet berprestasi ini akhirnya mencuat ke publik setelah viral di media sosial. Setelah sorotan publik menguat, barulah pihak terkait, termasuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), turun tangan memberikan bantuan biaya pengobatan.
Perhatian juga datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, setelah kasus ini diberitakan oleh Kompas TV. Mengetahui kondisi tersebut, Dedi Mulyadi menyatakan akan membantu pengobatan Siti Nur Rahayu dengan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dedi Mulyadi pun menyayangkan fakta bahwa informasi mengenai kondisi atlet berprestasi asal Garut itu justru diketahui dari media sosial, bukan melalui laporan resmi pemerintah daerah atau organisasi olahraga.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan lemahnya sistem pendampingan dan perlindungan atlet berprestasi di daerah, khususnya ketika mereka menghadapi masalah kesehatan serius di luar arena pertandingan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






