ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Deretan kios yang berdiri rapat di pinggir jalan sudah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap Kota Bandung.
Dari kios buku bekas, alat tulis, tukang stempel, hingga pembuat plat kaleng, para pedagang memilih berjualan berdampingan, menempati ruang-ruang publik yang sering kali luput dari perencanaan kota.
Fenomena ini bukan kebetulan. Bagi para pedagang kecil, berjejer justru menjadi strategi bertahan hidup.
ADVERTISEMENT
Sandra (48), pedagang buku di kawasan Jalan Lodaya, mengaku sudah 15 tahun membuka kios di lokasi tersebut. Ia melihat kedekatan antar pedagang sebagai keuntungan, bukan ancaman.
“Kalau di sini ramai, orang sudah tahu. Mau cari barang tertentu, tinggal datang ke satu area dan bisa cek beberapa kios sekaligus. Itu bikin pengunjung lebih banyak,” ujar Sandra, Kamis (5/2/2026).
Meski sama-sama berjualan di satu titik, setiap kios memiliki karakter dan barang yang berbeda. Ada yang fokus buku pelajaran, buku bekas, alat tulis, hingga perlengkapan lain. Variasi ini, menurut Sandra, justru memudahkan pelanggan.
“Sebagian barang memang ada yang sama, tapi kebanyakan beda-beda. Jadi pembeli bisa bandingkan, pilih sesuai kebutuhan, tanpa harus pindah jauh,” katanya.
Kondisi ini mencerminkan realitas sektor informal di perkotaan. Berbagai penelitian menunjukkan, pedagang kecil kerap muncul di ruang publik karena ruang perdagangan formal belum sepenuhnya mampu menampung seluruh pelaku usaha. Bagi banyak orang, berdagang di pinggir jalan menjadi alternatif paling realistis untuk bertahan secara ekonomi.
Alih-alih saling mematikan, deretan kios ini membentuk semacam simbiosis ekonomi. Ketika satu kios tidak memiliki barang yang dicari, pelanggan dengan mudah diarahkan ke kios lain di sebelahnya.
“Kalau saya nggak punya, ya saya arahkan ke kios sebelah. Besok-besok bisa jadi dia yang mengarahkan ke saya. Jadi saling melengkapi, bukan saling menyaingi,” tutur Sandra.
Dari sisi pembeli, keberadaan kios yang berdekatan justru memberi kenyamanan. Diki (19), salah seorang pengunjung, mengaku lebih memilih berbelanja di area seperti ini.
“Membantu banget. Kalau nggak ada di toko ini, tinggal geser ke sebelah. Nggak ribet. Tempatnya juga nggak terlalu ramai, jadi enak,” ujarnya.
Selain memudahkan konsumen, aktivitas ini turut menggerakkan ekonomi lokal. Ramainya pengunjung berdampak langsung pada omzet pedagang dan perlahan membentuk identitas kawasan sebagai sentra usaha kecil yang praktis dan lengkap.
Sejarah juga mencatat, kawasan Jalan Lodaya bukan pemain baru. Sandra menyebut dirinya pindah dari Bursa Buku Cikapundung sekitar 15 tahun lalu, mengikuti arus pedagang lain yang mencari ruang baru untuk bertahan. Sejak itu, kawasan ini tumbuh menjadi pusat perdagangan kecil yang hidup dengan caranya sendiri.
Di tengah keterbatasan ruang dan kebijakan kota yang belum sepenuhnya ramah pada sektor informal, deretan kios di pinggir jalan Bandung menjadi potret nyata ketahanan ekonomi warga. Bukan sekadar soal berjualan, tetapi tentang bagaimana para pedagang kecil menemukan cara untuk tetap hidup—berdampingan, berbagi ruang, dan saling menguatkan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






