Kamis, 26 Februari 2026 9:21

KORANMANDALA.COM – Setiap Ramadan, ada kebiasaan kecil yang nyaris tak pernah berubah di Bandung. Menjelang waktu magrib, orang-orang beranjak dari rumah, kantor, atau kampus menuju tempat makan yang itu-itu saja.

Bukan karena tak ada kafe baru atau restoran viral, melainkan karena rasa di sana sudah lebih dulu melekat dalam ingatan.

Dulu, banyak warga Bandung diajak orang tuanya berbuka puasa di warung nasi Sunda sederhana. Kini, mereka datang kembali mengajak pasangan, rekan kerja, bahkan anaknya sendiri.

Tiket KA Lebaran 2026 di Daop 2 Bandung Diserbu, Puluhan Ribu Kursi Ludes Sejak Awal Penjualan

Di kota yang berubah cepat, kuliner legendaris justru menjadi penanda bahwa ada hal-hal yang boleh tetap sama.

Tempat Bukber Favorit Warga Bandung dari Dulu hingga Sekarang

Bagi sebagian warga, memilih tempat bukan soal mengikuti tren. Yang dicari adalah rasa yang familiar dan suasana yang tak dibuat-buat.

Warung Nasi Ibu Imas menjadi salah satu contoh paling nyata. Nama ini telah lama melekat sebagai rujukan kuliner Sunda di Bandung. Menu rumahan seperti ayam goreng, jeroan, karedok, sambal pedas, dan lalapan masih menjadi favorit lintas generasi. Saat Ramadan, pengunjung datang bergerombolan—dari keluarga kecil, keluarga besar, hingga rekan kerja. Di satu meja yang sama, sering bertemu orang tua yang bernostalgia dan anak muda yang baru mengenal “rasa Bandung” dari cerita keluarga. Warung ini tersebar di kawasan Balonggede dan sekitar Pasar Baru.

Di Alas Daun Restaurant, pengalaman makan kolektif terasa lebih kentara. Lauk disajikan di atas daun pisang, diletakkan di tengah meja, lalu disantap bersama. Konsep ini membuat momen bukber terasa lebih akrab—obrolan mengalir, lauk saling ditawarkan, dan waktu berbuka terasa lebih panjang. Menu ayam bakar, pepes ikan, tumisan, hingga sambal khas Sunda menjadi pilihan aman bagi rombongan besar dengan selera yang beragam. Lokasinya berada di Jl. Citarum No. 34, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Sementara itu, Paviliun Sunda kerap dipilih ketika bukber membutuhkan suasana yang lebih tenang. Restoran ini dikenal dengan sajian Sunda yang konsisten, mulai dari nasi timbel, sop buntut, hingga olahan ikan dan ayam. Letaknya yang strategis menjadikannya titik temu keluarga dan tamu dari luar kota. Di sini, buka puasa tak terasa terburu-buru. Paviliun Sunda berada di Jl. L.L.R.E. Martadinata (Riau) No. 97, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Ada pula Nasi Bancakan, yang menghadirkan kembali rasa dapur rumahan ke ruang publik. Menu sederhana seperti tempe, tahu, pepes, sayur asem, dan sambal dadak membuat tempat ini terasa dekat dengan keseharian warga Bandung. Bagi banyak orang, bukber di sini seperti makan di rumah sendiri—tanpa formalitas, tapi penuh rasa akrab. Lokasinya berada di Jl. Diponegoro No. 25, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung.

Kuliner Malam Ramadan di Bandung Setelah Bukber

Buka puasa di Bandung jarang berhenti di meja makan. Bagi sebagian orang, perjalanan kuliner justru berlanjut setelah tarawih.

Mie Naripan masih menjadi rujukan bagi mereka yang ingin “menambah karbo” di malam hari. Kedai mi ini telah lama dikenal warga Bandung. Pengunjungnya datang lintas generasi—yang dulu mahasiswa, kini datang membawa anak. Menu mi yamin, bakso, dan pangsit mempertahankan rasa yang nyaris tak berubah meski zaman berganti. Lokasinya berada di Jl. Naripan No. 108, Kebon Pisang, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.

Untuk yang menginginkan sesuatu yang manis dan segar, Es Cendol Elizabeth kerap menjadi tujuan takjil favorit. Kesederhanaan rasanya—cendol, santan, dan gula aren—justru menjadi daya tarik. Di bulan Ramadan, antrean pembeli sering mengular menjelang waktu berbuka. Bagi banyak orang, segelas cendol ini bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan penanda bahwa Ramadan datang lagi.

Sementara di malam yang dingin, Ronde Alkateri menjadi penutup yang hangat. Wedang jahe dengan isian ronde dan kacang terasa pas disantap selepas tarawih. Suasana gerobak kecil di pinggir jalan, orang-orang berdiri sambil menyeruput minuman hangat, menghadirkan potret Bandung yang pelan-pelan kian jarang ditemui.

Mengapa Kuliner Legendaris Bandung Tetap Dicari di Tengah Tren Baru

Di tengah kafe dan restoran baru yang datang silih berganti, tempat-tempat makan legendaris di Bandung mengajarkan satu hal: yang bertahan bukan yang paling viral, melainkan yang paling konsisten menemani hidup orang-orang.

Kuliner-kuliner ini tidak hanya menjual rasa, tetapi juga menyimpan ingatan kolektif kota—tentang orang tua yang dulu mengajak anaknya berbuka, tentang meja makan yang menjadi ruang cerita, dan tentang Bandung yang hidup lewat obrolan kecil menjelang magrib.

Luqman Dwirizal Arifin/MG

Koranmandala.com

Exit mobile version