Jumat, 27 Februari 2026 5:34

KORANMANDALA.COMProyek pembangunan jembatan akses kawasan Summarecon Gedebage dipastikan berhenti total pada awal 2026. Infrastruktur yang semula dirancang sebagai jalur pendukung menuju Stasiun Kereta Cepat Tegalluar itu kini berakhir mangkrak dan mulai dibongkar, menyusul penolakan warga serta persoalan perizinan yang tak kunjung tuntas.

Pembangunan proyek tersebut telah dimulai sejak 2023 dengan pemasangan jembatan sementara jenis Bailey. Namun sejak awal, proyek ini menuai penolakan karena dinilai tidak melalui proses sosialisasi yang memadai kepada warga terdampak.

Warga khawatir keberadaan jembatan justru mempersempit badan jalan yang sudah padat dan berpotensi memperparah kemacetan di kawasan tersebut.

Risiko di Balik Fenomena Kosan Transit Bandung: Antara Mobilitas Tinggi dan Kualitas Kesehatan Ruang

“Warga tidak diajak bicara, tahu-tahu mau dibangun. Jalan ini sudah sempit, nanti macetnya makin parah,” ujar Deni (47), warga setempat, Selasa (3/2/2026).

Selain persoalan sosial, proyek ini juga disebut terkendala kelengkapan izin dan rencana teknis yang belum final. Meski belum mengantongi perizinan secara utuh, pengerjaan fisik sempat berjalan dan baru dihentikan setelah muncul protes warga serta evaluasi dari otoritas terkait.

Akibatnya, pembangunan tidak berlanjut dan sebagian struktur jembatan kini mulai dibongkar. Jembatan tersebut dipastikan gagal difungsikan sesuai rencana awal sebagai akses penunjang kawasan dan stasiun kereta cepat.

“Yang paling disorot tentu Summarecon karena ini akses mereka, tapi pemerintah jangan lepas tangan. Pengawasan perizinan itu kewenangan pemerintah. Sekarang malah dibongkar dan tidak pernah dipakai,” kata Udin (56), warga lainnya.

Hingga saat ini, material jembatan sementara di lokasi mulai dibersihkan. Namun belum ada kejelasan terkait rencana lanjutan pembangunan akses tersebut maupun pertanggungjawaban atas proyek yang terlanjur dibangun namun gagal beroperasi.

Koranmandala.com

Exit mobile version