Kamis, 26 Februari 2026 18:00

KORANMANDALA.COM –Kota dikenal sebagai kota pendidikan, pariwisata, sekaligus pusat aktivitas ekonomi di Jawa Barat. Tingginya mobilitas penduduk menjadi konsekuensi logis dari peran tersebut.

Berdasarkan data kependudukan terbaru, jumlah penduduk Kota Bandung mencapai sekitar 2,5 juta jiwa, dengan 78,57 persen di antaranya berada pada usia produktif.

Kombinasi mahasiswa, pekerja, serta pendatang musiman mendorong munculnya berbagai bentuk hunian fleksibel. Salah satu yang kian menjamur adalah , yakni hunian sewa harian atau mingguan yang ditujukan untuk kebutuhan tinggal sementara.

Sambut Ramadhan, Persib Bandung Gelar Doa Bersama dan Panjatkan Harapan Juara

Kepadatan Penduduk dan Permintaan Hunian Fleksibel

Dengan tingkat kepadatan mencapai sekitar 15.000 jiwa per kilometer persegi, Bandung menjadi kota terpadat di Jawa Barat. Urbanisasi dan tingginya arus mobilitas memperkuat permintaan hunian jangka pendek sebagai solusi praktis bagi pendatang.

Namun, karakter kosan transit yang ditandai dengan pergantian penghuni yang cepat menghadirkan konsekuensi tersendiri. Dinamika ini tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan ruang hunian.

Dampak Kesehatan Lingkungan dan Kualitas Ruang

Sejumlah studi mengenai kualitas udara dalam ruang (indoor air quality) di kawasan perkotaan Bandung mengungkap persoalan krusial terkait hunian padat. Salah satu temuan utama adalah tingkat kelembapan ruang yang kerap berada di atas standar ideal hunian, yakni di luar kisaran 40–70 persen.

Kondisi ini, terutama pada kamar mandi dan ruang dengan ventilasi minim, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan jamur dan mikroorganisme. Risiko kesehatan semakin meningkat ketika fasilitas berbahan kain—seperti kasur, karpet, dan sofa—tidak melalui prosedur pembersihan rutin yang ketat. Material tersebut berpotensi menjadi reservoir debu organik dan mikroorganisme.

Meski paparan senyawa kimia seperti formaldehida dan volatile organic compounds (VOC) pada hunian non-industri umumnya masih berada dalam batas aman, faktor kebersihan permukaan serta efektivitas ventilasi tetap menjadi penentu utama kualitas kesehatan ruang.

Dinamika Sosial dan Kelelahan Lingkungan

Di luar aspek kesehatan fisik, kosan transit juga memengaruhi dinamika sosial di lingkungan permukiman. Arus keluar-masuk penghuni yang cepat kerap membuat stabilitas sosial terasa menurun. Warga menetap sering kali terdorong melakukan pengawasan informal terhadap aktivitas di sekitar hunian, yang dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kelelahan sosial.

Minimnya interaksi antara penghuni sementara dan warga tetap juga berisiko melemahkan kohesi sosial serta menurunkan rasa saling percaya di tingkat lingkungan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu ketegangan laten di kawasan permukiman padat.

Tata Kelola sebagai Kunci Mitigasi Risiko

Dalam konteks tersebut, standar tata kelola hunian menjadi faktor kunci mitigasi risiko. Pengelolaan kosan transit idealnya mencakup pengendalian tingkat okupansi kamar agar berada pada kisaran 80–90 persen, guna mencegah kondisi over-occupancy.

Selain itu, penerapan sistem verifikasi identitas penghuni, prosedur perawatan rutin, serta penyediaan ventilasi yang memadai merupakan prasyarat mutlak untuk menjaga kualitas udara dan sanitasi lingkungan. Tata kelola yang baik tidak hanya melindungi penghuni kosan transit, tetapi juga menjaga kualitas hidup masyarakat sekitar.

Fenomena kosan transit di Bandung mencerminkan adaptasi hunian terhadap tingginya mobilitas penduduk perkotaan. Namun, berbagai kajian kesehatan lingkungan dan sosiologi perkotaan menegaskan bahwa fleksibilitas hunian harus diimbangi dengan pengelolaan yang bertanggung jawab.

Ventilasi, kebersihan, dan prosedur operasional standar menjadi fondasi penting agar hunian transit tidak berubah menjadi sumber risiko kesehatan dan sosial di tengah kota. (Luqman Dwirizal Arifin/MG)

Koranmandala.com

Exit mobile version