ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Asap tipis mengepul dari tungku tanah liat di sebuah warung sederhana di Cipadung, Cibiru. Aroma santan yang bertemu panas wajan menyebar perlahan, berpadu dengan udara sejuk kaki Gunung Manglayang.
Di tempat inilah Surabi 46 Cipadung bertahan, bukan sekadar menjual makanan, tapi menawarkan pengalaman.
Warung yang beralamat di Jalan Desa Cipadung No. 53, Kota Bandung ini berdiri sejak 2012. Dari bangku kayu yang menghadap ke timur, pengunjung disuguhi panorama perbukitan Manglayang yang terbentang tanpa sekat bangunan.
ADVERTISEMENT
Risiko di Balik Fenomena Kosan Transit Bandung: Antara Mobilitas Tinggi dan Kualitas Kesehatan Ruang
Lanskap hijau itu menjadi latar alami bagi siapa pun yang datang terutama saat sore, ketika cahaya matahari mulai melunak.
Secara topografis, kawasan Cipadung berada di dataran yang lebih tinggi dibanding permukiman di sekitarnya. Posisi inilah yang membuat Surabi 46 memiliki area duduk terbuka langsung ke arah perbukitan. Banyak pengunjung memilih duduk berlama-lama, menunggu surabi matang sambil menikmati perubahan warna langit.
Usaha kuliner ini dikelola oleh keluarga Ustadz Imdad, dengan operasional harian dijalankan oleh Ibu Ratna (57). Sejak awal berdiri, lokasi warung tak pernah berpindah.

“Dari awal buka memang di sini, dan posisinya langsung menghadap ke perbukitan Manglayang,” ujar Ibu Ratna, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, waktu paling ramai biasanya menjelang sore.
“Kalau sore sekitar jam empat mulai ramai. Banyak yang duduk lama sambil melihat pemandangan,” katanya.
Surabi yang disajikan di warung ini masih setia pada cara lama. Tepung beras dan santan dimasak di atas tungku dengan wajan tanah liat metode yang telah dikenal masyarakat Sunda sejak masa pra-industri. Dalam catatan kebudayaan Sunda, surabi merupakan pangan masyarakat agraris, hadir jauh sebelum peralatan masak modern digunakan secara luas.
Surabi 46 Cipadung mempertahankan teknik dan bahan dasar tersebut, termasuk varian tradisional seperti surabi oncom. Oncom sendiri merupakan pangan hasil fermentasi kacang-kacangan yang telah dikonsumsi masyarakat Sunda sejak abad ke-19, terutama di wilayah pedesaan Jawa Barat.
Kesederhanaan itulah yang justru menarik pengunjung dari berbagai kalangan. Warga sekitar, mahasiswa, hingga pengunjung dari luar Kota Bandung kerap singgah. Area duduk di ujung warung yang langsung menghadap ke perbukitan menjadi titik favorit.
“Biasanya saya pilih duduk di ujung karena langsung kelihatan Manglayang,” ujar Fahmi (21), salah satu pengunjung.
“Suasananya tenang, enak buat ngobrol sambil makan,” tambahnya.

Hingga kini, Surabi 46 Cipadung tak banyak berubah. Tak ada konsep kafe modern atau dekorasi mencolok. Warung ini tetap sederhana, seolah membiarkan alam dan tradisi yang berbicara. Di kaki Gunung Manglayang, surabi bukan hanya soal rasa, tetapi juga ruang sosial—tempat orang berhenti sejenak, menghangatkan tangan, dan menikmati senja Bandung Timur.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






