ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Ketika eksploitasi alam dan alih fungsi lahan terus menggerus kawasan pegunungan, masyarakat di sekitar Gunung Manglayang memilih jalur yang berbeda.
Mereka tidak berbicara dengan data teknokratis atau jargon kebijakan, melainkan melalui ritual adat Sunda sebagai pengingat bahwa alam memiliki batas yang harus dihormati.
Pesan itu tercermin dalam Ritual Ruwatan Gunung Manglayang yang digelar di kawasan wisata Batu Kuda Manglayang, Desa Cikoneng Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Senin (2/2/2026). Ritual tahunan ini melibatkan budayawan, tokoh masyarakat, komunitas pecinta alam, serta mendapat dukungan Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan.
ADVERTISEMENT
Prosesi ruwatan diisi dengan doa bersama, pembacaan doa adat, dan pertunjukan seni tradisional Sunda. Namun di balik rangkaian budaya tersebut, terselip kegelisahan kolektif atas kondisi lingkungan yang kian tertekan oleh aktivitas manusia.
Penggagas kegiatan, Abah Njoem (51), menyebut ruwatan bukan sekadar simbol budaya, melainkan bentuk refleksi kritis terhadap relasi manusia dengan alam yang mulai timpang.
“Tradisi ini sudah ada sejak lama, terakhir dilaksanakan tahun 2004. Sempat terhenti karena disalahpahami. Padahal esensinya adalah rasa syukur dan pengingat agar manusia tidak semena-mena terhadap alam,” ujarnya.
Menurut Abah, gagasan menghidupkan kembali ruwatan muncul pada 2018 setelah diskusi panjang dengan para sesepuh. Ritual kembali digelar sejak Januari 2019 dan terus berjalan hingga kini.
Ia menilai, persoalan lingkungan saat ini sudah berada pada titik mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan dan pengabaian terhadap daya dukung alam berpotensi memicu bencana.
“Kalau alam terus ditekan, cepat atau lambat akan ada akibatnya. Longsor, banjir, krisis air—itu semua bukan kejadian tiba-tiba,” katanya.
Pesan ekologis ruwatan tahun ini semakin kuat dengan kehadiran perwakilan masyarakat adat Suku Baduy dari Banten. Bagi Abah, kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan wacana baru, melainkan praktik hidup yang telah lama dijalankan masyarakat adat.
“Masyarakat Baduy punya filosofi kuat soal batas dan keseimbangan alam. Mereka tidak banyak bicara, tapi konsisten dalam praktik,” ujarnya.
Selain sebagai ruang refleksi lingkungan, ruwatan juga diposisikan sebagai sarana edukasi lintas generasi. Abah menilai generasi muda perlu dilibatkan agar tidak tercerabut dari akar budaya sekaligus peka terhadap isu ekologis.
“Kalau anak muda hanya dekat dengan gawai, mereka bisa lupa bahwa hidup bergantung pada alam. Di sini mereka belajar budaya, belajar alam, dan belajar tanggung jawab,” tuturnya.
Dukungan juga datang dari Perhutani. Administratur Perhutani setempat, Mansur Supriatna (56), menyebut ruwatan menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pengelolaan kawasan hutan.
“Kawasan ini dikelola bersama masyarakat dan pemerintah desa. Kegiatan budaya seperti ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian,” katanya.
Menurut Mansur, sejak 2019 kegiatan ruwatan terus didorong agar menjadi agenda rutin, bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran kolektif.
“Kelestarian itu soal dua hal: sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kalau manusianya sadar, alamnya bisa dijaga,” ujarnya.
Ia juga mencatat meningkatnya keterlibatan generasi muda dari tahun ke tahun, termasuk mahasiswa dan komunitas lingkungan.
“Regenerasi mulai terlihat. Ini penting agar pesan menjaga Gunung Manglayang tidak berhenti di satu generasi,” kata Mansur.
Ruwatan Gunung Manglayang kini telah ditetapkan sebagai agenda tahunan setiap 2 Februari. Di tengah tekanan pembangunan dan perubahan lanskap alam, ritual ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal masih relevan sebagai alarm dini terhadap krisis lingkungan yang kian nyata.
Muhammad Farhan Rizqi / MG
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






