Sabtu, 28 Februari 2026 3:22

KORANMANDALA.COM Oh Darling menjadi motor perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah di Kampung Cibunut, RW 07, Kelurahan Kebon Pisang, Kecamatan Sumur , Kota Bandung. Melalui pemilahan sampah dari rumah dan sistem pengelolaan berbasis komunitas, kawasan permukiman yang sebelumnya akrab dengan persoalan sampah kini tertata lebih bersih dan berkelanjutan.

Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Inisiatif ini lahir dari keresahan warga terhadap persoalan sampah perkotaan yang terus berulang tanpa solusi tuntas. Sejak 2015, Kampung Cibunut mulai menyesuaikan diri dengan Program Kawasan Bebas Sampah (KBS) Pemerintah Kota Bandung, sebelum kemudian mengembangkannya menjadi sistem pengelolaan mandiri melalui Bank Sampah Oh Darling.

Secara nasional, konsep bank sampah telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 13 Tahun 2012 tentang pelaksanaan Reduce, Reuse, Recycle (3R) melalui bank sampah. Gagasan ini pertama kali diperkenalkan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, pada 2008, dan berkembang menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat di berbagai daerah, termasuk Kampung Cibunut.

Kemacetan Kronis Membayangi Bandung, Waktu Tempuh 10 Kilometer Tembus 22 Menit

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Oh Darling, Herman—akrab disapa Om Ibo—menjelaskan pembentukan KSM bertujuan menjaga keberlanjutan program agar tidak bergantung pada pergantian kepengurusan wilayah.

“Kelompok swadaya masyarakat ini dibentuk supaya program tetap berjalan, bukan tergantung siapa RW-nya,” ujar Herman, Sabtu (1/2/2026).

Dalam praktik sehari-hari, warga Kampung Cibunut telah terbiasa memilah sampah langsung dari rumah. Sampah organik dikumpulkan setiap Senin, Rabu, dan Jumat untuk diolah menjadi kompos atau dikirim ke pusat pengolahan. Sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi disetorkan ke Bank Sampah Oh Darling setiap akhir pekan.

Menurut Herman, kebiasaan tersebut dibangun melalui proses pendampingan yang konsisten. “Warga sekarang sudah terbiasa memilah sampah. Ini bukan perubahan instan, tapi hasil dari proses panjang,” katanya.

Selain mengandalkan partisipasi warga, pengelola bank sampah juga melakukan pencatatan terhadap sampah yang dikelola. Pendataan ini menjadi alat ukur dampak nyata pengurangan sampah di tingkat kelurahan. Berdasarkan catatan internal, pengelolaan sampah organik mencapai puluhan ton per bulan, sementara sampah anorganik yang terkumpul tercatat lebih dari satu ton.

“Dengan data, kita bisa melihat sejauh mana perubahan terjadi dan apa yang perlu diperbaiki,” ujar Herman.

Seiring waktu, dampak paling signifikan dari program ini tidak hanya terlihat pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada perubahan cara pandang warga terhadap sampah. Pendekatan yang digunakan tidak menyalahkan kebiasaan lama, melainkan mendorong partisipasi kolektif dan rasa tanggung jawab bersama.

Kini, melalui Bank Sampah Oh Darling, Kampung Cibunut dikenal sebagai salah satu contoh kawasan dengan pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kota Bandung. Pengalaman ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat tumbuh dari kesadaran bersama, sistem yang konsisten, dan proses kolaboratif yang berkelanjutan. (Rifki Rafsanjani/MG)

Koranmandala.com

Exit mobile version