Kamis, 26 Februari 2026 13:46

KORANMANDALA.COM –Masyarakat Indonesia (METI) membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk terlibat dalam agenda transisi energi nasional melalui wadah METI Muda. Program ini dibuka tanpa pembatasan kuota maupun persentase keanggotaan.

Ketua Umum METI, Zulfan Zahar, menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda bukan sekadar formalitas, melainkan bagian strategis dalam memastikan keberlanjutan transisi energi di Indonesia.

“Untuk kuota, kami tidak membatasi. Semakin banyak semakin baik. Tapi ini bukan soal organisasi seperti partai. Yang kami dorong adalah agar generasi muda memahami bahwa transisi energi adalah peluang yang harus dijaga bersama oleh seluruh pemangku kepentingan,” ujar Zulfan.

Penghentian BPMU Dinilai Bebani Sekolah Swasta, SMK Muhammadiyah Garut Terancam Kesulitan Operasional

Menurutnya, METI Muda diharapkan menjadi ruang lahirnya generasi muda yang memiliki visi serta mampu menawarkan solusi konkret, khususnya yang relevan dengan karakter dan kebutuhan daerah masing-masing.

“Kami berharap generasi muda ini punya visi dan bisa memberikan solusi nyata, terutama solusi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya. Masukan dari anak muda sangat dibutuhkan karena mereka lebih dekat dengan realitas lapangan dan sering kali berpikir lebih out of the box,” jelasnya.

Zulfan menambahkan, dukungan dari perguruan tinggi menjadi faktor penting agar gagasan dan perspektif generasi muda dapat terhubung langsung dengan perumusan kebijakan energi terbarukan.

“Kami berharap universitas ikut mendukung, sehingga suara anak muda ini benar-benar bisa menjadi masukan nyata dalam kebijakan energi terbarukan,” katanya.

Selain membahas peran generasi muda, Zulfan juga menyoroti besarnya potensi energi terbarukan di Jawa Barat. Menurutnya, provinsi ini memiliki sumber daya alam yang mendukung pengembangan energi bersih, khususnya dari sektor air dan angin.

“Jawa Barat punya potensi besar, terutama untuk PLTA dan pembangkit listrik tenaga bayu. Kami juga mengusulkan agar pembangkit angin tidak hanya dibangun di pegunungan, tetapi juga di wilayah pesisir, karena potensi angin di pantai Jawa Barat sangat besar,” ungkapnya.

Menanggapi stigma bahwa energi terbarukan selalu mahal, Zulfan menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Biaya energi, kata dia, sangat bergantung pada lokasi dan karakter wilayah.

“Stigma mahal ini yang sedang kami luruskan. Energi itu mahal atau murah tergantung di mana lokasinya. Contohnya, pembangkit biomassa di Pulau Buru lebih murah dibandingkan diesel. Begitu juga PLTS di Nusa Penida yang biayanya jauh lebih rendah dibandingkan diesel,” paparnya.

Ia menegaskan, perbandingan biaya energi harus dilakukan secara kontekstual dan tidak bisa disamaratakan antarwilayah.

“Mahal itu harus dibandingkan dengan apa dan di mana lokasinya. Justru di situlah keunggulan Indonesia, karena karakter wilayahnya sangat beragam,” pungkas Zulfan.

Dengan pelibatan generasi muda, dukungan akademisi, serta pemanfaatan potensi lokal, METI optimistis agenda transisi energi nasional dapat berjalan lebih adil, efisien, dan berkelanjutan di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.

Exit mobile version