Kamis, 26 Februari 2026 20:50

KORANMANDALA.COMDinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana () Provinsi Jawa Barat memberikan Psychological First Aid (PFA) atau dukungan psikologis awal kepada warga terdampak bencana tanah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pendampingan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan kondisi mental dan sosial penyintas yang terdampak langsung bencana.

Sejumlah warga yang mengungsi dilaporkan masih mengalami kebingungan dan tekanan emosional akibat kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, harta benda, serta mata pencaharian.

KAI Buka Pembelian Tiket Angkutan Lebaran, Keberangkatan dari Bandung Banyak Diminati Masyarakat

Kondisi tersebut menjadi perhatian DP3AKB mengingat dampak psikologis pascabencana kerap tidak terlihat secara fisik, namun berpengaruh besar terhadap keberlangsungan hidup penyintas.

Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat, Siska Gerfianti, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sebagian besar warga terdampak menunjukkan respons stres yang bersifat normal sebagai reaksi terhadap situasi darurat, bukan gangguan kejiwaan atau trauma berat.

“Respons stres yang dialami warga merupakan reaksi wajar terhadap peristiwa bencana. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah dukungan psikologis awal agar mereka bisa kembali merasa aman dan berfungsi secara sosial,” ujar Siska saat dihubungi di Kota Bandung, Kamis (29/1/2026).

Pendampingan psikososial yang diberikan dilakukan dengan pendekatan empatik, yakni dengan menghadirkan pendamping di tengah warga terdampak, mendengarkan keluhan secara aktif, mengamati kondisi psikologis penyintas, serta membantu memastikan rasa aman.

Selain itu, penyintas juga dihubungkan dengan berbagai sumber bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Menurut Siska, dukungan psikologis awal ini diharapkan dapat membantu warga memperkuat daya pulih, mengurangi tekanan mental, serta secara bertahap memulihkan fungsi sosial mereka pascabencana.

“Kami berharap melalui pendampingan ini, warga terdampak bisa lebih kuat menghadapi situasi bencana dan perlahan kembali menjalani aktivitas sehari-hari, meskipun kehilangan harta benda akibat longsor,” katanya.

Pelaksanaan pendampingan melibatkan beberapa tim yang terdiri dari konselor serta tenaga ahli di bidang psikologi. Dalam pelaksanaannya, DP3AKB Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Balarea Provinsi Jawa Barat, Forum Anak Daerah (FAD) Provinsi Jawa Barat, Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar), serta para teladan Keluarga Berencana di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

Kolaborasi juga dijalin dengan TP PKK Kabupaten Bandung Barat, Dinas P2KBP3A Kabupaten Bandung Barat, Dinas P3A Kota Bandung, serta UPT P2KBP3A Kecamatan Cisarua, guna memastikan pendampingan berjalan menyeluruh dan berkelanjutan.

Berdasarkan data DP3AKB Provinsi Jawa Barat, jumlah pengungsi akibat bencana longsor di Desa Pasirlangu tercatat sebanyak 203 perempuan dan 78 anak.

Data tersebut menjadi dasar dalam penentuan prioritas pendampingan, mengingat perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis pascabencana.

Pendampingan psikososial ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan sosial bagi warga terdampak longsor di Pasirlangu.

Koranmandala.com

Exit mobile version