KORANMANDALA.COM –Pasar barang bekas di Kota Bandung, seperti kawasan Gedebage dan Jatayu, kini mengalami pergeseran fungsi.
Jika sebelumnya identik sebagai tempat berbelanja murah, pasar-pasar ini kini bertransformasi menjadi destinasi perburuan fashion bagi komunitas anak muda yang kerap disebut sebagai anak skena.
Bagi sebagian warga urban Bandung, mengenakan pakaian bekas tidak lagi dilihat sebagai simbol keterbatasan ekonomi.
Pameran Foto “Ragam” di STIKOM Bandung Tampilkan 84 Karya Fotografi Mahasiswa
Thrifting justru menjadi cara membangun identitas personal melalui gaya berpakaian yang unik dan berbeda dari produk fashion massal yang dijual di pusat perbelanjaan modern.
Nilai Kelangkaan di Tengah Tumpukan Pakaian
Tren ini didorong oleh meningkatnya minat terhadap gaya hidup yang menghargai barang vintage. Pakaian dari era 1980-an hingga 1990-an dinilai memiliki nilai sejarah sekaligus kelangkaan yang tidak bisa ditemukan pada produk baru.
Proses berburu barang bekas pun menjadi pengalaman tersendiri. Pembeli rela menghabiskan waktu berjam-jam menyisir tumpukan pakaian untuk menemukan satu helai barang bermerek dengan kondisi layak dan harga terjangkau. Kemampuan menemukan barang “hidden gem” di tengah kepadatan pasar menjadi prestise tersendiri di kalangan anak skena.
Peran Media Sosial dan Dampak Ekonomi Lokal
Media sosial turut mempercepat penyebaran tren thrifting di Bandung. Hasil buruan yang dianggap unik kerap diunggah sebagai konten digital, sekaligus menjadi bentuk validasi sosial di lingkar pertemanan maupun komunitas daring.
Meningkatnya eksposur di media sosial berdampak langsung pada geliat ekonomi pasar barang bekas. Pedagang lokal merasakan peningkatan kunjungan pembeli, terutama dari kalangan anak muda.
Sejumlah pedagang pun mulai beradaptasi dengan memilah stok pakaian yang sesuai dengan selera pasar, seperti jaket vintage, kaus band lawas, hingga celana denim klasik.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana pasar tradisional mampu bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan tren fashion. Tanpa kehilangan karakter lokalnya, pasar barang bekas di Bandung justru menemukan relevansi baru sebagai ruang ekspresi gaya hidup urban.
Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang adaptif terhadap perubahan tren, di mana kreativitas warganya mampu mengubah ruang ekonomi sederhana menjadi bagian dari identitas budaya populer.
Muhamad Yura Adani Putra / MG
