Kamis, 26 Februari 2026 16:36

KORANMANDALA.COM – Aktivitas pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan , Kota , kian tertekan akibat meningkatnya lalu lintas kendaraan berat.

Mobilitas truk proyek menuju kawasan Summarecon dan Masjid Al-Jabbar memicu kepulan debu serta polusi udara yang berdampak langsung pada kenyamanan pedagang dan pembeli.

Eko (43), salah seorang pedagang, mengungkapkan kondisi tersebut membuat calon pembeli enggan berhenti untuk makan di pinggir jalan. Debu jalanan dan asap kendaraan besar menjadi keluhan utama pelanggan.

Cabuli Anak, Pria di Bandung Divonis 7 Tahun Penjara

“Orang jadi mikir dua kali kalau mau makan di pinggir jalan. Debu dan asap mobil besar terus-terusan,” ujar Eko, Kamis (29/1).

Menurutnya, kepadatan kendaraan berat di kawasan tersebut meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya truk-truk besar hanya melintas dari arah kawasan industri Sapan, kini arus kendaraan bertambah seiring masifnya pembangunan pusat permukiman dan kawasan komersial baru di Gedebage.

Kondisi ini memaksa pedagang melakukan upaya tambahan untuk menjaga kebersihan makanan. Eko mengaku harus menutup gerobaknya dengan kain gorden agar debu tidak langsung mengenai makanan yang dijual.

“Setiap hari harus ekstra bersih. Gerobak ditutup terus supaya debu enggak langsung nempel ke makanan,” katanya.

Meski terpapar polusi sepanjang hari, Eko mengaku tidak memiliki banyak pilihan. Aktivitas berdagang tetap harus dijalani demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kalau enggak jualan, keluarga di rumah mau makan apa. Mau enggak mau tetap bertahan meskipun kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Kondisi PKL di Gedebage ini mencerminkan dampak lanjutan pembangunan kawasan perkotaan yang belum sepenuhnya diimbangi dengan pengelolaan lingkungan dan perlindungan bagi pelaku usaha kecil di ruang publik.

Dafi / MG

Koranmandala.com

Exit mobile version