Jumat, 27 Februari 2026 5:31

KORANMANDALA.COMLangit siang itu mendung. Sesekali matahari muncul, lalu menghilang lagi di balik awan kelabu. Bagi sebagian orang, cuaca seperti ini cukup untuk mengurungkan niat keluar rumah. Tapi tidak bagi Abdul Mutholib (42).

Di pinggir Jalan Lodaya, Kecamatan Lengkong, sebuah gerobak bakso malang tampak setia menunggu pelanggan.

Uap hangat mengepul dari panci rebusan, berpadu dengan aroma kuah gurih yang mengundang siapa saja untuk mendekat. Di balik gerobak itu, Abdul berdiri tenang—seolah hujan dan panas hanyalah bagian kecil dari rutinitas hidupnya.

Cabuli Anak, Pria di Bandung Divonis 7 Tahun Penjara

Sudah sekitar 20 tahun Abdul menekuni profesi sebagai pedagang bakso malang. Berpindah-pindah tempat bukan hal asing baginya. Sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, ia mendorong gerobaknya, melayani pembeli, dan berdamai dengan cuaca yang kerap berubah tanpa aba-aba.

“Kalau hujan tetap diterabas aja. Mau panas, mau hujan, ya jalan terus. Namanya juga nyari rezeki,” ucap Abdul, Rabu (29/1/2026), sambil tersenyum tipis.

Baginya, hujan bukan penghalang. Gerobaknya sudah dilengkapi peneduh sederhana yang bisa dibuka kapan saja. Begitu rintik turun, tangannya sigap—peneduh dibentangkan, panci tetap menyala, dan mangkuk-mangkuk bakso terus terisi.

“Kalau hujan tinggal buka peneduh. Yang penting jualan jalan terus,” katanya singkat.

Tak hanya bakso malang, Abdul juga menjajakan aneka gorengan. Pilihan itulah yang kerap membuat anak-anak berhenti sejenak, menatap gerobaknya dengan mata berbinar sebelum akhirnya merogoh uang saku.

“Gorengannya banyak macemnya. Anak-anak biasanya seneng, jadi sering jajan ke sini,” ujarnya.

Waktu paling ramai biasanya datang saat jam istirahat siang, sekitar pukul 12.00 WIB usai azan Dzuhur. Para pekerja, pengendara, hingga warga sekitar bergantian merapat. Menariknya, hujan justru kerap menjadi “teman baik” bagi dagangannya.

“Kalau hujan juga tetap ada aja yang beli. Biasanya ya ke bakso malang,” kata Abdul sambil menuangkan kuah panas ke mangkuk plastik.

Salah satu pelanggan setianya, Rendi (23), mengaku sengaja mampir saat jam istirahat kerja. Di tangannya, semangkuk bakso malang lengkap dengan tahu dan siomay mengepul hangat.

“Bakso malang enak, apalagi dimakan pas hujan. Anget, pilihannya banyak, bisa campur-campur, dan harganya ramah di saku,” ujar Rendi.

Di tengah cuaca Bandung yang tak menentu, kisah Abdul Mutholib adalah potret keteguhan pedagang kecil. Dengan gerobak sederhana dan semangat yang tak mudah luntur, ia terus menerabas hujan dan panas—menjaga tungku tetap menyala demi sepiring bakso dan harapan hidup yang terus berjalan. (Rifki Rafsanjani)

Koranmandala.com

Exit mobile version