Jumat, 27 Februari 2026 6:53

KORANMANDALA.COM –Masyarakat yang tinggal di kawasan lereng perbukitan dan bantaran sungai diminta lebih peka terhadap tanda-tanda alam yang dapat menjadi peringatan dini terjadinya , khususnya longsor dengan mekanisme aliran lumpur (mudflow).

Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., menjelaskan bahwa longsor tipe aliran sebenarnya memiliki gejala awal yang relatif mudah dikenali oleh masyarakat, terutama melalui perubahan kondisi sungai.

“Untuk longsoran yang mekanismenya aliran seperti ini, tandanya sebenarnya cukup jelas. Misalnya, sungai yang biasanya selalu berair tiba-tiba surut atau bahkan kering, padahal di bagian hulu sedang turun hujan,” ujar Imam, Rabu (28/1/2026).

Pakar ITB Jelaskan Mekanisme Longsor Cisarua, Warga Diminta Waspadai Potensi Susulan

Menurutnya, kondisi tersebut patut dicurigai sebagai adanya penyumbatan aliran sungai di bagian hulu akibat longsoran di tebing sungai.

“Itu artinya di hulunya ada sesuatu yang membendung. Yang paling sering membendung aliran sungai adalah material longsoran dari tebing sungai. Material ini bisa membentuk bendungan alami sementara,” jelasnya.

Imam mengingatkan, bendungan alami akibat longsor sangat berbahaya karena sewaktu-waktu dapat jebol dan melepaskan material dalam jumlah besar ke arah hilir.

“Ketika bendungan alami itu jebol, materialnya akan meluncur bersama air, mengikis tebing kiri dan kanan sungai, lalu bisa menerjang permukiman di bawah sebagai longsoran baru,” katanya.

Selain perubahan debit air sungai, tanda-tanda bahaya juga dapat diamati di sepanjang tebing sungai, khususnya di bagian hulu. Namun, indikator ini umumnya hanya dapat dikenali melalui pemantauan langsung di lapangan.

“Di bagian atas, tandanya bisa berupa retakan di tebing sungai, pohon-pohon yang mulai miring di sisi kiri dan kanan sungai. Itu menunjukkan material tanah sudah tidak stabil dan siap meluncur,” ungkap Imam.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa warga di wilayah hilir tetap dapat membaca tanda-tanda bahaya tanpa harus naik ke kawasan hulu.

“Dari bawah cukup perhatikan sungainya. Jika air mendadak berkurang, berhenti mengalir, atau menjadi sangat keruh secara tidak wajar saat hujan deras terjadi di atas, itu harus diwaspadai. Bisa jadi material di atas sedang ‘mengumpulkan tenaga’ sebelum meluncur,” ujarnya.

Imam menambahkan, longsor merupakan satu sistem yang saling berkaitan, mulai dari sumber material di hulu, jalur aliran di sepanjang sungai, hingga daerah pengendapan di wilayah permukiman.

“Longsoran itu ibarat satu sistem. Ada sumbernya di atas, ada jalur alirannya di sungai, dan ada daerah bencananya di bawah. Tanda-tandanya bisa dibaca di semua bagian, asal masyarakat tahu dan peka,” pungkasnya.

Ia berharap edukasi kebencanaan terus diperkuat agar masyarakat mampu mengenali risiko sejak dini dan melakukan evakuasi mandiri lebih cepat sebelum bencana terjadi.

Exit mobile version