Jumat, 27 Februari 2026 10:39

KORANMANDALA.COMPeristiwa longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten (KBB), Sabtu (24/1/2026) dini hari, tidak dapat dipahami semata-mata sebagai dampak alih fungsi lahan.

Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., menegaskan bahwa bencana tersebut merupakan hasil interaksi kompleks faktor alamiah, terutama kondisi geomorfologi dan hidrologi kawasan.

Menurut Imam, longsor yang terjadi di lereng selatan Gunung Burangrang tersebut memiliki mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu oleh longsoran di bagian hulu sistem aliran sungai.

Andrew Jung Berperan dalam Kepindahan Layvin Kurzawa ke Persib Bandung

“Jenis longsoran itu beragam. Namun, yang terjadi di Cisarua bukan hanya jatuhan atau gelinciran, melainkan mekanisme aliran. Material longsor mengalir dari lereng Gunung Burangrang yang jauh lebih tinggi melalui kemiringan sangat terjal, sehingga terus meluncur hingga ke area perkebunan dan permukiman warga di bawah,” ujar Imam saat diwawancarai, Rabu (28/1/2026).

Ia menjelaskan, secara geologi, kejadian longsor sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi dan tingkat kelerengan. Semakin terjal lereng, semakin besar potensi terjadinya longsor, terlebih jika dipicu oleh hujan berintensitas tinggi.

“Material yang mengalir bukan hanya air, melainkan campuran air dan sedimen. Di dalamnya terdapat lempung, pasir, kerikil, bahkan bongkah batuan yang ukurannya bisa mendekati satu meter. Campuran ini membuat daya rusaknya sangat besar,” jelasnya.

Imam menambahkan, aliran lumpur tersebut umumnya mengikuti jalur sungai yang sudah ada. Namun, dalam prosesnya, material longsor justru mengerosi tebing sungai dan membentuk lereng-lereng baru yang lebih terjal serta tidak stabil.

“Daya gerusnya sangat kuat. Sungai terkikis, tebing kiri-kanannya runtuh. Ketika aliran mencapai zona peralihan dari lereng curam ke lereng landai, material melebar. Kondisi inilah yang menyebabkan rumah dan kebun yang jaraknya cukup jauh dari badan sungai ikut tersapu,” katanya.

Berdasarkan hasil pengamatan, lebar sebaran material longsor di lokasi terdampak bahkan mencapai lebih dari 100 meter. Kondisi tersebut diperparah oleh curah hujan ekstrem yang terjadi sebelum peristiwa longsor.

“Curah hujan saat itu sangat tinggi. Sumber airnya besar, sehingga volume material yang bergerak terus bertambah selama meluncur dari gunung,” ungkapnya.

Terkait potensi longsor susulan, Imam mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, lereng-lereng baru hasil erosi di sepanjang alur sungai masih berpotensi labil.

“Masih sangat mungkin terjadi longsor susulan, terutama di sisi kiri dan kanan sungai. Jika hujan deras kembali terjadi, material yang belum stabil dapat kembali meluncur bersama aliran air,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya survei geologi secara detail guna memetakan zona rawan serta menentukan langkah mitigasi yang tepat. Imam juga menyarankan agar kawasan yang telah terdampak longsor tidak lagi dijadikan sebagai area permukiman.

“Lokasi yang sudah terlanda longsor sebaiknya direlokasi dan tidak ditempati kembali. Jika pun dimanfaatkan, cukup untuk perkebunan terbatas. Area sempadan sungai harus dihijaukan atau dilengkapi struktur penahan sebagai perisai alami,” tegasnya.

Menurut Imam, edukasi kebencanaan dan penataan ruang berbasis risiko menjadi kunci utama untuk mencegah jatuhnya korban jiwa pada kejadian serupa di masa mendatang.

“Bencana seperti ini tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun, risikonya bisa dikurangi jika tata ruang dijalankan dengan serius dan kesadaran kebencanaan masyarakat terus ditingkatkan,” pungkasnya.

Koranmandala.com

Exit mobile version