KORANMANDALA.COM –Pertunjukan pantomim mewarnai acara Ngalap Ajip yang digelar di Gedung Pusat Kebudayaan Ajip Rosidi, Bandung, Selasa (28/1/2026). Pantomim tersebut dihadirkan sebagai salah satu bentuk tafsir atas gagasan dan pemikiran sastrawan Ajip Rosidi, khususnya terkait nilai-nilai kebudayaan Sunda.
Melalui bahasa tubuh dan simbol visual, seni pantomim digunakan untuk menyampaikan pesan kebudayaan tanpa dialog verbal. Pertunjukan ini bertujuan mendekatkan pemikiran Ajip Rosidi kepada publik dengan medium seni yang komunikatif dan inklusif.
Pemeran pantomim, Wanggi Hoed, seniman pantomim asal Bandung, menjelaskan bahwa pantomim merupakan seni pertunjukan yang mengandalkan ekspresi tubuh dan imajinasi untuk menyampaikan pesan.
Gaya Hidup Investasi di Jantung Kota: Pegadaian Kanwil X Jabar Gelar Festival Tring! di PVJ Bandung
“Pantomim itu seni tanpa kata, seni pertunjukan yang hanya menggunakan bahasa tubuh dan imajinasi, tapi bisa menyampaikan pesan kepada masyarakat,” ujar Wanggi usai pertunjukan.
Dalam aksinya, Wanggi menampilkan sejumlah simbol yang merujuk pada pemikiran Ajip Rosidi, di antaranya penggunaan atribut batik dan alat musik angklung sebagai representasi identitas budaya Sunda.
“Saya memakai atribut batik karena itu salah satu bentuk pakaian yang selalu dikenalkan oleh Pak Ajip Rosidi sebagai identitas Indonesia dan kelokalan,” katanya.
Ia menambahkan, gerak dan ekspresi yang ditampilkan juga menggambarkan sosok Ajip Rosidi yang dikenal ramah, namun sarat nilai dan pemikiran kebudayaan. Penggunaan angklung, menurutnya, menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan akar budaya Sunda.
“Angklung itu untuk menarik kembali bahwa budaya Sunda jangan menjadi angin lalu. Orang Sunda akan terus melekat ke mana pun mereka pergi,” ujarnya.
Wanggi menyebut Ajip Rosidi sebagai figur yang konsisten membawa nilai-nilai kesundaan dalam perjalanan hidup dan karya-karyanya, baik di dalam maupun luar negeri. Namun demikian, ia mengakui tantangan utama dalam pertunjukan pantomim adalah memastikan pesan dapat diterima oleh audiens.
“Tantangannya apakah ini bisa diterima oleh audiens yang datang. Bukan sekadar mengerti, tapi bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan,” katanya.
Menurut Wanggi, pertunjukan tersebut juga membawa pesan agar masyarakat tidak melupakan warisan pemikiran para tokoh nasional.
“Jangan sampai melupakan warisan-warisan baik tokoh-tokoh nasional. Ini bagian dari jembatan ingatan untuk generasi berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Ngalap Ajip, Hafidz Azhar, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas komunitas yang digelar di Gedung Pusat Kebudayaan Ajip Rosidi. Istilah ngalap, kata dia, dipilih sebagai simbol upaya mengambil nilai dan keberkahan dari pemikiran Ajip Rosidi.
“Saya ingin nama Ajip ini tidak hanya dikenal oleh orang Sunda, tapi juga masyarakat Indonesia bahkan dunia,” kata Hafidz.
Menurutnya, acara tersebut melibatkan berbagai komunitas dan lembaga dengan latar belakang yang beragam sebagai ruang interaksi dan kolaborasi kebudayaan.
Salah seorang pengunjung, Nazwa Khoirunisa, mengaku terkesan dengan pertunjukan pantomim yang ditampilkan.
“Seru, terus merinding. Gerakan angklungnya sama suara-suaranya Sunda banget,” ujarnya.
Meski mengaku belum sepenuhnya memahami makna simbolik pertunjukan, Nazwa menilai pantomim tersebut memiliki kekuatan visual yang kuat.
“Aku nggak terlalu tahu maknanya, tapi keren banget. Nyeni banget,” katanya.
