ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Kondisi perekonomian di Pasar Andir dan Pasar Baru, Kota Bandung, kian memprihatinkan. Sejak 2019, penurunan daya beli masyarakat terus terjadi dan berdampak langsung pada aktivitas perdagangan. Tak sedikit toko terpaksa tutup, sementara pedagang yang bertahan kini harus melakukan efisiensi besar-besaran di tengah sepinya pengunjung.
Pantauan di lokasi pada Senin (26/1/2026), lorong-lorong pasar yang biasanya padat menjelang Ramadan tampak lengang. Suasana yang dahulu identik dengan hiruk pikuk transaksi kini berganti sunyi.
“Dulu kalau mendekati Lebaran, pasar selalu macet dan penuh orang. Sekarang kondisinya jauh berbeda, orang-orang susah, suasananya tidak hidup seperti dulu,” ujar Haris, pedagang yang telah berjualan selama 35 tahun di Pasar Andir.
ADVERTISEMENT
Lesunya aktivitas perdagangan berdampak langsung pada pengurangan tenaga kerja. Sejumlah pemilik toko yang sebelumnya mempekerjakan lima hingga sepuluh karyawan kini terpaksa bekerja sendiri karena tak mampu lagi membayar gaji.
“Saya masih bertahan jualan, tapi sudah tidak sanggup menggaji pegawai. Hampir semua pedagang kondisinya sama sekarang,” kata Haris.
Selain faktor ekonomi makro, perubahan pola konsumsi masyarakat juga dinilai turut mempercepat kemunduran pasar tradisional. Maraknya belanja daring disebut menjadi salah satu penyebab utama runtuhnya ekosistem perdagangan konvensional.
Meski demikian, Haris menilai pasar tradisional masih memiliki keunggulan, terutama dalam hal kualitas dan kepastian barang. “Kalau beli di pasar, pembeli bisa lihat dan pilih barang langsung. Kalau belanja online, kalau tidak cocok, sering kali barang tidak bisa dikembalikan,” ujarnya.
Kondisi ini semakin berat bagi pedagang kecil yang tidak memiliki aset cadangan, seperti lahan atau usaha lain di kampung halaman. Di tengah persaingan dengan sistem perdagangan modern, mereka hanya mengandalkan ketahanan dan kesabaran untuk bertahan hidup.
Menjelang Ramadan yang tinggal sekitar 25 hari lagi, Haris mengaku tak memiliki banyak harapan selain terus berusaha.
“Mau mengadu ke siapa juga bingung. Orang kecil seperti saya paling hanya bisa menerima keadaan. Yang penting tetap usaha, sisanya ya sabar,” tuturnya lirih.
(Dafi/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






