Kamis, 26 Februari 2026 20:50

KORANMANDALA.COM – Bencana di Kabupaten Bandung Barat kembali membuka persoalan serius soal tata ruang dan kerentanan lingkungan di kawasan perbukitan.

Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Jawa Barat memutuskan untuk merelokasi warga yang terdampak longsor demi menghindari risiko korban lanjutan.

Keputusan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat meninjau langsung lokasi bencana di Kecamatan Cisarua, Sabtu (24/1/2026). Dari hasil peninjauan lapangan, ia menilai kawasan tersebut tidak lagi layak dihuni karena tingkat kerawanan longsor yang sangat tinggi.

Longsor Terjang Permukiman Padat di Cisarua, Puluhan Keluarga Mengungsi Saat Dini Hari

Dedi mengungkapkan, lereng perbukitan di sekitar lokasi longsor telah lama dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sayuran. Pola pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan karakter alam tersebut dinilai memperparah kondisi tanah dan meningkatkan potensi longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

“Wilayah ini seharusnya dikembalikan ke fungsi ekologisnya. Lebih aman jika dihijaukan kembali. Warga harus direlokasi karena ancaman longsor masih sangat besar,” ujar Dedi Mulyadi di lokasi.

Sebagai langkah darurat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta warga yang selamat untuk sementara mengontrak rumah selama dua bulan. Pemprov Jabar menyiapkan bantuan sebesar Rp10 juta per kepala keluarga untuk kebutuhan sewa rumah sekaligus menopang kebutuhan hidup harian.

Selain itu, pemerintah juga menyalurkan santunan kepada keluarga korban meninggal dunia akibat longsor sebesar Rp25 juta per kepala keluarga sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap warga terdampak bencana.

Dedi menegaskan, fokus pemerintah saat ini tidak hanya pada pemulihan sosial, tetapi juga pada upaya pencarian korban yang masih tertimbun material longsor serta pemulihan lingkungan di sekitar lokasi kejadian.

Proses evakuasi dan pencarian korban melibatkan tim gabungan yang terdiri dari BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kabupaten Bandung Barat, TNI, Basarnas, serta relawan. Operasi pencarian dilakukan secara maksimal dengan mempertimbangkan faktor keselamatan tim di lapangan.

“Keselamatan warga dan petugas adalah prioritas. Setelah fase darurat, kita akan menata ulang kawasan ini agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Dedi.

Koranmandala.com

Exit mobile version