Jumat, 27 Februari 2026 9:28

KORANMANDALA.COM –Lampu merah di Perempatan Kiara Condong bukan sekadar pengatur lalu lintas. Bagi sebagian orang, ia menjadi penanda waktu yang berjalan terlalu lambat; bagi yang lain, justru menjadi ruang hidup yang menentukan nasib sehari-hari.

Setiap hari, deretan sepeda motor dan mobil mengular di persimpangan ini. Mesin kendaraan menyala pelan, klakson sesekali bersahutan, sementara mata pengendara tertuju pada lampu lalu lintas yang seolah enggan berubah warna.

Di sela jeda panjang itu, Zaenal (60) berdiri dengan dagangannya. Selama kurang lebih 13 tahun, ia menghabiskan hari di titik yang sama. Sejak pukul 06.00 hingga sekitar 15.00 WIB, ia bertahan di antara asap kendaraan dan hiruk-pikuk jalanan, menggantungkan harapan pada lamanya lampu merah.

Beasiswa LPDP Kampus di Kota Bandung, Tersedia Ribuan Kursi untuk Awardee

Bagi Zaenal, durasi lampu merah bukan keluhan. Justru di sanalah sumber penghidupannya.

“Kalau lampunya lama, orang-orang yang nunggu biasanya beli. Sangat membantu,” ujarnya lirih.

Kemacetan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Yang lebih ia khawatirkan bukanlah padatnya kendaraan, melainkan ketika arus lalu lintas terlalu lancar dan pengendara melaju cepat, membuat dagangannya luput dari perhatian.

Selama kendaraan berhenti, ia masih punya waktu—waktu untuk menawarkan dagangan, sekaligus berharap cukup penghasilan untuk pulang hari itu.

Namun, waktu yang sama dirasakan berbeda oleh Nauvaldi (21). Pengendara sepeda motor itu telah melewati Perempatan Kiara Condong sejak masih duduk di bangku SMA.

Kini sebagai mahasiswa, ia masih kerap melintas, terutama pada jam-jam sibuk di siang hari. Saat lampu merah menyala terlalu lama, perhatiannya bukan lagi pada jalan, melainkan pada waktu yang terus berjalan.

Ia mengaku pernah merasakan dampak langsung dari lamanya waktu tunggu di persimpangan ini.

“Pernah telat masuk kampus, bahkan telat pas ujian,” katanya.

Bagi Nauvaldi, setiap detik yang terbuang di lampu merah berarti satu langkah tertinggal dari aktivitasnya. Bukan karena tak sabar, melainkan karena rutinitas hidup yang menuntut ketepatan waktu—seperti dialami banyak warga kota lainnya.

Lamanya lampu merah di Perempatan Kiara Condong akhirnya menghadirkan ironi. Di satu sisi, ia menjadi ruang bertahan hidup bagi pedagang kecil. Di sisi lain, ia menjadi beban mobilitas bagi ribuan pengendara yang melintas setiap hari.

Di persimpangan ini, waktu tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berpihak, tergantung dari mana seseorang berdiri.

Namun di balik dua kepentingan yang saling bertolak belakang, muncul pertanyaan yang belum terjawab: sejauh mana pengaturan lalu lintas di kawasan ini benar-benar dirancang untuk kepentingan publik secara menyeluruh? (Luqman Dwirizal Arifin/MG)

Koranmandala.com

Exit mobile version