KORANMANDALA.COM –Dua mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi Institut Teknologi Bandung (ITB), Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro, berhasil menciptakan inovasi energi alternatif berupa bio-briket berbahan limbah organik.
Bio-briket ini memanfaatkan daun kering dan serabut kelapa yang melimpah di lingkungan kampus, khususnya ITB Jatinangor, sebagai bahan bakar padat yang efisien, rendah asap, dan ramah lingkungan.
Gagasan pembuatan bio-briket ini berangkat dari keprihatinan Indah terhadap banyaknya daun kering yang menumpuk di kawasan kampus Menurutnya, daun kering sebenarnya bisa menjadi kompos alami, namun proses penguraiannya membutuhkan waktu cukup lama.
Umuh Muchtar Buka Suara soal Kehadiran Layvin Kurzawa di Bandung
“Daun kering itu sebenarnya tidak masalah kalau ditumpuk di dekat pohon atau di rumput karena bisa jadi kompos alami. Tapi prosesnya tidak cepat, minimal butuh dua minggu,” ujar Indah, Jumat (23/1).
Selain dinilai kurang estetis, pembakaran daun kering secara langsung juga dianggap tidak memberikan nilai tambah dan justru memperparah emisi karbon.
“Kalau hanya dibakar, itu tidak memberi value apa-apa. Justru hanya menambah emisi karbon dan membuang energi. Dari situ kami berpikir untuk mencari cara lain yang lebih bermanfaat,” tambahnya.
Dari pemikiran tersebut, lahirlah bio-briket sebagai solusi pemanfaatan limbah biomassa dengan proses yang relatif lebih cepat dibandingkan pengomposan.
Bio-briket sendiri merupakan bahan bakar padat yang berasal dari biomassa. Meski nilai kalor yang dihasilkan tidak sebesar bahan bakar konvensional, bio-briket memiliki keunggulan dari sisi kemudahan penyalaan, ketahanan bakar, serta emisi asap yang lebih rendah.
“Saat kami uji coba, nyala apinya cukup baik dan tahan lama. Asap yang dihasilkan juga tidak banyak,” jelas Indah.
Dari sisi lingkungan, bio-briket dinilai lebih ramah karena karbon yang dilepaskan saat pembakaran sebagian besar merupakan karbon yang sebelumnya diserap tanaman selama masa hidupnya.
“Kontribusi bersihnya terhadap karbon dioksida di atmosfer lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil,” ujarnya.
Indah juga menilai potensi pengembangan bio-briket secara massal di Indonesia cukup besar. Ia mencontohkan Kabupaten Boyolali yang telah memanfaatkan daun dan residu kayu jati sebagai bahan baku bio-briket dan berhasil memberdayakan kelompok ibu-ibu sebagai pelaku usahanya.
“Masih banyak desa di Indonesia yang punya potensi biomassa melimpah. Yang dibutuhkan sekarang adalah edukasi dan pendampingan cara membuat bio-briket yang efektif,” katanya.
Langkah-Langkah Pembuatan Bio-Briket
Berikut tahapan pembuatan bio-briket yang dikembangkan oleh Arsyad dan Indah:
1. Persiapan Bahan
Bahan yang digunakan meliputi daun kering, serabut kelapa, tepung tapioka, dan air.
2. Karbonisasi Pirolisis
Daun kering dan serabut kelapa dibakar dalam kondisi oksigen rendah menggunakan barel besi hingga menghasilkan arang.
3. Penghalusan Arang
Arang yang dihasilkan ditumbuk hingga halus, kemudian disaring untuk mendapatkan bubuk arang paling lembut.
4. Pembuatan Perekat
Tepung tapioka dicampur dengan air dan dipanaskan hingga mengental.
5. Pencampuran Adonan
Bubuk arang dicampur dengan larutan tapioka hingga membentuk adonan yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.
6. Pencetakan
Adonan dimasukkan ke dalam cetakan, yang dapat dibuat dari pipa atau bambu.
7. Pengeringan
Bio-briket dijemur di bawah sinar matahari selama 2–3 hari hingga kering sempurna.
Tantangan dalam Pengembangan
Dalam proses pengembangannya, tim mahasiswa ini menghadapi sejumlah kendala, terutama pada tahap karbonisasi, pencampuran adonan, dan pengeringan.
“Kami cukup kesulitan menciptakan kondisi panas dengan oksigen rendah saat karbonisasi, sehingga hasil arangnya belum selalu sempurna,” ungkap Indah.
Selain itu, proses pencampuran membutuhkan banyak uji coba agar adonan tidak terlalu lembek maupun terlalu kering. Sementara pada tahap pengeringan, ketergantungan pada sinar matahari membuat waktu produksi menjadi lebih lama.
Sebagai solusi, Indah menyarankan penggunaan barel pembakaran yang lebih baik serta modifikasi bentuk bio-briket.
“Selain bentuk tabung, bio-briket bisa dibuat pipih seperti kepingan koin. Bentuk ini bisa mempercepat pengeringan dan mencegah bagian dalam masih basah,” pungkasnya
