Jumat, 27 Februari 2026 1:07

KORANMANDALA.COM yang kian sulit diprediksi menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin tempe rumahan di Jalan Sukakarya, Cicaheum, Kota . Hujan berkepanjangan dan suhu dingin berdampak langsung pada proses fermentasi, memaksa para pengrajin bekerja lebih teliti agar produksi tidak berujung gagal.

Parmidi (55), pengrajin tempe setempat, mengungkapkan bahwa cuaca merupakan faktor krusial dalam menentukan kualitas tempe. Saat suhu dingin atau hujan, jumlah ragi harus ditambah agar fermentasi berjalan optimal. Sebaliknya, ketika cuaca panas, takaran ragi justru harus dikurangi.

“Kalau salah takaran, tempe bisa bantat atau rasanya berubah,” ujar Parmidi saat ditemui, Kamis (22/1/2026).

PLN Hadirkan Program “PLN Goes to School” di SMA Negeri 6 Bandung

Ia menjelaskan, proses produksi tempe dimulai dari merebus kedelai, merendamnya selama satu malam, menggiling serta membersihkan kulit kedelai, lalu mencucinya hingga benar-benar steril sebelum diberi ragi. Menurutnya, kebersihan menjadi kunci utama agar tempe tetap berkualitas meski cuaca berubah-ubah.

“Tempe itu seperti anak kecil, harus tahu cara ngurusnya. Kurang ragi beda hasilnya, kebanyakan ragi juga beda,” katanya, menggambarkan betapa sensitifnya proses fermentasi.

Parmidi menegaskan, kualitas tempe tidak ditentukan oleh cap atau merek, melainkan oleh proses produksi yang higienis dan konsisten. Ia meyakini konsumen dapat langsung merasakan perbedaan tempe yang diolah dengan baik.

“Pembeli itu tahu rasa. Semua tergantung prosesnya,” ujarnya.

Dalam satu siklus produksi, tempe membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari sebelum siap dipasarkan. Namun, tantangan pengrajin tidak berhenti pada faktor cuaca. Kenaikan harga kedelai, yang sebagian besar masih bergantung pada impor, turut menekan biaya produksi.

Parmidi berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kedelai agar pengrajin tempe rumahan tetap mampu bertahan di tengah tekanan cuaca dan ekonomi.(Yusuf/MG)

Koranmandala.com

Exit mobile version