ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Perkembangan teknologi dan menjamurnya transportasi berbasis aplikasi membuat nasib penarik becak di Kota Bandung kian terpinggirkan. Moda transportasi yang pernah berjaya itu kini sulit bersaing dengan ojek daring yang menawarkan kemudahan, kecepatan, serta tarif yang transparan.
Sejumlah penarik becak mengaku pendapatan mereka terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya masih bisa memperoleh penghasilan harian yang cukup, kini mereka kerap menunggu berjam-jam tanpa mendapatkan penumpang.
Adi (45), salah seorang penarik becak yang telah menekuni profesi tersebut sejak 2020, mengatakan kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Edwin Senjaya Desak Dinkes dan RSUD Bandung Kiwari Benahi Pelayanan Kesehatan
“Sekarang becak sudah ketinggalan zaman, penumpang sepi, tidak seperti dulu,” ujar Adi saat ditemui di Bandung, Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, Adi mengaku masih bertahan dengan mengandalkan jasa angkut barang dari toko-toko di sekitar tempat mangkalnya. Ia kerap diminta mengantarkan paket atau karung berisi barang dagangan.
“Kadang dari toko minta antar paket, satu atau dua karung. Penghasilannya memang tidak seberapa, yang penting masih ada buat makan,” katanya.
Adi menyebutkan, penghasilan hariannya tidak menentu. Dalam sehari, ia hanya bisa membawa pulang sekitar Rp50 ribu dan jarang mencapai Rp100 ribu. Beruntung, setoran harian yang harus ia bayar relatif kecil.
“Sehari kadang dapat Rp50 ribu, jarang sampai Rp100 ribu. Untungnya setoran cuma Rp10 ribu. Harapan saya ekonomi bisa stabil dan suatu saat dapat pekerjaan yang lebih layak,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang kini lebih memilih layanan transportasi digital. Akibatnya, keberadaan becak di sejumlah kawasan Kota Bandung semakin jarang ditemui dan hanya bertahan di titik-titik tertentu.
Para penarik becak berharap pemerintah dapat memberikan perhatian, baik melalui pembinaan, bantuan sosial, maupun solusi kebijakan agar mereka tetap bisa bertahan di tengah arus modernisasi transportasi. (Mammad Farhan Rizqi/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






