ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Persoalan pengelolaan sampah di Jawa Barat kembali menjadi sorotan. Universitas Islam Bandung (Unisba) menawarkan solusi berbasis teknologi melalui reaktor plasma dingin, yang dinilai lebih ramah lingkungan dan aman dalam mengolah sampah residu dibandingkan sistem minisetor mini yang selama ini diterapkan Pemerintah Kota Bandung.
Rektor Unisba, Prof. A. Harits Nu’man, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional. Menurutnya, dibutuhkan inovasi berbasis riset dan teknologi yang mampu menekan emisi karbon sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Sampah ini dihasilkan oleh masyarakat. Karena itu, pendekatan yang kami kembangkan tidak hanya teknologi, tetapi juga sosio-engineering. Kesadaran memilah sampah tetap penting, namun teknologi menjadi solusi ketika pendekatan sosial belum berjalan optimal,” ujar Prof. Harits, Rabu (21/1/2026).
ADVERTISEMENT
Edwin Senjaya Desak Dinkes dan RSUD Bandung Kiwari Benahi Pelayanan Kesehatan
Ia menjelaskan, berbeda dengan sistem minisetor mini yang masih bergantung pada pemilahan manual serta pengangkutan lanjutan ke tempat pembuangan akhir (TPA), reaktor plasma dingin Unisba mampu mengolah sampah residu secara langsung dalam sistem tertutup tanpa menghasilkan asap pembakaran.
“Reaktor plasma dingin ini tidak bekerja dengan pembakaran terbuka seperti insinerator. Sistemnya tertutup, emisi dikendalikan, dan bahkan diarahkan menuju konsep zero carbon,” jelasnya.
Prof. Harits menambahkan, metode pembakaran dalam pengolahan sampah memiliki risiko menghasilkan karbon dioksida dan partikel berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Karena itu, penggunaannya mulai dibatasi oleh pemerintah.
“Pembakaran plastik menghasilkan partikel berbahaya. Itu sebabnya Kementerian Lingkungan Hidup melarang penggunaan insinerator. Teknologi plasma dingin menjadi alternatif yang lebih aman bagi lingkungan,” katanya.
Selain aspek lingkungan, teknologi ini juga dinilai memiliki dampak sosial dan ekonomi. Unisba berencana melibatkan mahasiswa dalam proses pengawasan, edukasi, serta pendampingan masyarakat, sehingga berpotensi membuka peluang lapangan kerja baru.
“Jika ke depan setiap kecamatan atau kelurahan memiliki satu unit, maka akan ada kebutuhan besar untuk pendampingan dan pengelolaan. Di sinilah peran mahasiswa dan akademisi,” ungkap Prof. Harits.
Ia menegaskan, pengembangan reaktor plasma dingin dilakukan melalui kerja sama empat pihak, yakni Unisba, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Sains dan Teknologi, serta Pemerintah Kota Bandung. Pemprov Jawa Barat berperan dalam regulasi lahan dan bangunan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi, sementara Pemkot Bandung bertanggung jawab dalam pengamanan lokasi.
“Dari sisi pendanaan, Unisba sedang menjajaki dukungan dari LPDP dengan nilai pengembangan sekitar Rp1,5 miliar,” tambahnya.
Tim peneliti yang berjumlah sekitar 10 orang telah mengembangkan teknologi ini sejak Januari 2020. Reaktor plasma dingin Unisba juga telah dinilai layak oleh DLH Kota Bandung dan DLH Provinsi Jawa Barat untuk digunakan secara lebih luas.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisba, Prof. Dr. Neni Sri Imaniyati, menegaskan bahwa reaktor plasma dingin merupakan hasil dari riset berkelanjutan para dosen Unisba dalam bidang pengelolaan sampah.
“Ini bukan inovasi yang lahir secara tiba-tiba. Risetnya berjenjang, mulai dari mesin pencacah, pengolahan food waste, hingga akhirnya reaktor plasma dingin. Teknologi ini sudah ditinjau langsung oleh pemerintah dan dinilai layak digunakan,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






