ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di tengah kenaikan harga suku cadang kendaraan, lapak sparepart bekas di kawasan Jatayu, Kota Bandung, masih ramai didatangi pembeli.
Suku cadang lama yang diperbaiki kembali menjadi alternatif bagi masyarakat, sekaligus menopang perekonomian pedagang kecil.
Di salah satu lapak, Agus (58) tampak memilah sparepart bekas satu per satu. Sejak awal 2000-an, ia menekuni usaha jual beli onderdil copotan yang sebagian besar diperoleh dari bengkel-bengkel kendaraan. Tidak semua barang langsung dijual; kondisi menjadi penentu utama kelayakan.
ADVERTISEMENT
DLH Bandung Gandeng Lima Perguruan Tinggi Kaji Teknologi Sampah Ramah Lingkungan
“Kalau masih bisa diperbaiki, kita perbaiki dulu supaya layak dipakai. Tapi kalau sudah enggak layak, ya tidak dijual,” ujar Agus saat ditemui di lapaknya.
Sparepart dengan kerusakan ringan dibersihkan dan diperbaiki sebelum kembali dipajang. Sementara barang yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan dipisahkan dan dijual secara kiloan dengan harga sekitar Rp3.000 per kilogram.
Menurut Agus, cara tersebut lebih baik dibandingkan membuang barang yang masih memiliki nilai guna. Selain membantu menambah pemasukan, praktik itu juga mengurangi limbah otomotif.
Aktivitas memilah dan memanfaatkan ulang sparepart bekas telah menjadi keseharian para pedagang di kawasan Jatayu. Di tengah tekanan ekonomi, lapak-lapak ini tetap bertahan sebagai ruang ekonomi rakyat.
Minat pembeli pun masih terjaga. Bayu (28), salah seorang pembeli, mengaku lebih memilih datang langsung ke lapak untuk memastikan kondisi barang sebelum membeli.
“Harganya lebih murah dan bisa dilihat langsung. Kalau beli online kadang tidak sesuai,” kata Bayu.
Ia menilai sparepart original copotan kerap lebih awet dibandingkan suku cadang baru dengan kualitas rendah. Menurutnya, barang lama yang diperbaiki kembali masih layak pakai dan lebih menguntungkan.
Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, lapak sparepart bekas di Jatayu tetap bertahan. Bagi pedagang dan pembeli, tempat ini bukan sekadar ruang transaksi, melainkan cara bertahan hidup dengan memaksimalkan barang yang masih dapat digunakan. (Luqman Dwirizal Arifin/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






