Kamis, 26 Februari 2026 19:36

KORANMANDALA.COM –Kasus perundungan terhadap anak berkebutuhan khusus kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, korban merupakan anak dengan keterlambatan bicara () yang mengalami tekanan psikologis hingga enggan bersekolah.

Pemerhati Psikologi Komunikasi Anak dan Keluarga, Dr. Almadina Rakhmaniar, S.Psi., M.I.Kom., CPS, CDM, menegaskan bahwa anak berkebutuhan khusus sejatinya telah menghadapi tantangan yang berat, bahkan sebelum berhadapan dengan lingkungan sosial yang belum ramah.

“Anak berkebutuhan khusus itu sebenarnya sudah memiliki tantangan bawaan. Ketika berada di lingkungan yang belum memahami kekhasan mereka, risikonya menjadi jauh lebih besar, apalagi jika sampai mengalami ,” ujar Almadina, Rabu (21/1/2026).

Disdik Bandung Jelaskan Kasus Anak Speech Delay Korban Bullying hingga Mogok Sekolah

Menurutnya, anak dengan speech delay menghadapi hambatan serius dalam proses komunikasi sehari-hari. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan mental ketika mendapat perlakuan negatif dari lingkungan sekitar.

“Untuk anak speech delay, berkomunikasi saja sudah menjadi tantangan besar. Ketika dibully, rasa percaya dirinya bisa hancur. Anak bisa merasa tidak diterima dan terisolasi dari lingkungannya,” jelasnya.

Almadina menekankan bahwa perundungan dapat memicu trauma psikologis mendalam, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satu indikator awal yang sering muncul adalah penolakan anak untuk kembali ke sekolah.

“Ketika anak sudah tidak mau sekolah, itu sinyal kuat adanya gangguan psikologis. Jika dibiarkan, dampaknya bisa berkembang menjadi depresi, kecemasan berlebihan, bahkan post-traumatic stress disorder (PTSD),” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut sangat berbahaya jika tidak segera ditangani secara serius, terutama ketika lingkungan sekolah dan masyarakat belum memiliki kesadaran, empati, serta sistem perlindungan yang memadai bagi anak berkebutuhan khusus.

“Bullying bukan sekadar masalah perilaku, tetapi persoalan serius yang bisa memengaruhi masa depan anak. Dibutuhkan peran aktif sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif,” tandas Almadina.

Exit mobile version