KORANMANDALA.COM – Program angkot feeder di Kota Bandung dinilai membantu mobilitas masyarakat melalui armada yang lebih tertib dan nyaman. Meski demikian, kualitas fasilitas halte di sejumlah titik pemberhentian masih belum merata.
Witarsyah (65), sopir angkot feeder jurusan Simpang Soetta–Kircon–Pasar Baru ABC, mengatakan kondisi halte di sepanjang jalur tersebut cukup beragam. Menurutnya, tidak semua halte berada dalam kondisi yang sama.
“Tidak semua halte jelek. Ada juga yang sudah bagus, tapi masih ada yang cuma plang saja dan tidak ada tempat duduk,” ujar Witarsyah, Selasa (20/1/2026).
Jelang Ramadan, Pemkot Bandung Hentikan Sementara Program Braga Beken
Ia menjelaskan, angkot feeder tidak berhenti di seluruh halte yang dilalui. Pemberhentian hanya dilakukan di halte tertentu yang telah ditetapkan, serta menyesuaikan dengan keberadaan penumpang.
“Kalau ada penumpang yang menunggu atau yang mau turun, baru berhenti,” katanya.
Sementara itu, dari sisi pengguna, layanan angkot feeder dinilai sudah cukup nyaman. Yuyun (48), warga yang rutin menggunakan angkot feeder pada rute yang sama, menilai kondisi kendaraan relatif lebih baik dibandingkan angkot konvensional.
“Angkotnya bersih, tempat duduknya nyaman, dan sopirnya juga tertib. Dibanding angkot biasa, ini lebih enak,” ujarnya.
Meski demikian, Yuyun menyoroti kondisi halte yang menurutnya belum sepenuhnya mendukung kenyamanan penumpang. Di beberapa titik, fasilitas halte masih terlihat kurang terawat dan belum nyaman digunakan saat menunggu, terutama dalam kondisi cuaca tertentu.
Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak terjadi di seluruh halte. Salah satu halte yang dinilainya sudah cukup baik berada di depan SMAN 8 Bandung.
“Ada juga halte yang sudah bagus. Jadi memang belum merata,” ucapnya.
Yuyun berharap ke depan Pemerintah Kota Bandung dapat lebih memperhatikan pemerataan kualitas halte di setiap titik pemberhentian. Menurutnya, fasilitas halte yang memadai menjadi faktor penting agar program angkot feeder dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Luqman Dwirizal Arifin/MG
