KORANMANDALA.COM –Kehadiran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) membawa perubahan signifikan dalam sistem pembayaran digital di Indonesia.
Sejak diluncurkan Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada 2019, QRIS menjadi standar nasional yang menyatukan berbagai layanan pembayaran, baik perbankan maupun financial technology (fintech).
Sistem ini dinilai mempermudah transaksi nontunai, terutama di kawasan perkotaan dan lingkungan kampus yang didominasi generasi muda. Namun, di balik kemudahan tersebut, sejumlah pedagang kecil di sekitar kawasan Kampus Tamansari, Kota Bandung, justru menghadapi tantangan, termasuk risiko transaksi bodong.
Dari Lahan Ubi Jadi Spot Wisata, Jalan Cikoneng Bandung Timur Sajikan Panorama Kota dari Ketinggian
Maman Pramana (25), pedagang cilok di sekitar kampus, mengaku pernah mengalami transaksi tidak valid akibat kurangnya ketelitian saat melayani pembeli.
“Pernah kejadian transaksi bekas orang lain. Mungkin saya juga kurang teliti. Sekarang antisipasinya notifikasi selalu dihidupkan. Kadang pembeli cuma nunjukin bukti transfer dari temannya,” ujar Maman, Selasa (20/1/2026).
Memasuki fase konsolidasi pada 2021, BI bersama pemerintah daerah memang gencar mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengadopsi QRIS. Namun, di lapangan, sejumlah persoalan masih kerap ditemui.
Dede (44), penjual bubur ayam di kawasan yang sama, menyebut praktik penukaran kode QR masih sering terjadi. Selain itu, keterlambatan dana masuk ke rekening menjadi persoalan serius bagi pedagang kecil.
“Usaha saya kecil. Kalau uangnya belum masuk, saya harus punya uang dobel buat belanja lagi,” kata Dede.
Ia juga mengaku pernah menerima nominal pembayaran yang tidak sesuai akibat kesalahan input dari pembeli.
“Saya jualan sepuluh ribu, tapi yang masuk cuma sepuluh rupiah. Kayaknya belum selesai ngetik tapi sudah terkirim,” tuturnya.
Untuk menghindari penyalahgunaan, para pedagang kini berupaya meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya dengan menyimpan kode QR setelah selesai berjualan.
“Kalau sudah beres dagang, QRIS sebaiknya dimasukin ke rumah. Jangan dibiarkan di gerobak, apalagi terbuka, karena dikhawatirkan ada yang bisa mengubah QR-nya,” ujar Dede.
Sementara itu, dari sisi konsumen, khususnya mahasiswa, penggunaan QRIS tetap dinilai praktis dan efisien. Ge (20), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung, mengatakan QRIS memudahkan transaksi sehari-hari.
“Bagi saya memudahkan untuk transfer dan jajan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rara (19). Ia mengaku lebih nyaman bertransaksi secara nontunai.
“Memudahkan juga, apalagi aku jarang pegang uang tunai. Jadi semuanya pakai QRIS,” katanya.
