Kamis, 26 Februari 2026 20:50

KORANMANDALA.COM – Sejumlah satwa di kebun Binatan Bandung diduga mengalami stres akibat kondisi pengelolaan yang dinilai belum optimal. Temuan ini disampaikan lembaga pemerhati satwa Geopix usai melakukan kunjungan ke pada 14 Januari 2026.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menilai kondisi beberapa satwa sangat memprihatinkan dan tidak boleh diabaikan. Satwa yang disoroti antara lain orangutan, gajah, dan monyet hitam.

“Temuan lapangan terkait dugaan kondisi stres pada orangutan, gajah, dan monyet hitam sangat mengkhawatirkan, memprihatinkan, dan tidak boleh diabaikan,” ujar Annisa dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (20/1/2026).

Layvin Kurzawa Dipastikan Gabung Persib Bandung, Media Prancis Sebut Tinggal Teken Kontrak

Ia menegaskan, pembukaan Bandung Zoo untuk pengunjung seharusnya dilakukan setelah melalui evaluasi menyeluruh oleh pengelola dan pemerintah. Menurutnya, keselamatan serta kesejahteraan satwa harus menjadi syarat utama, terlebih di tengah konflik internal yang masih terjadi.

“Kami mendesak lembaga pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan untuk tidak tergesa membuka kembali tanpa memastikan kondisi satwa dan standar pengelolaan benar-benar layak,” katanya.

Senada dengan itu, Senior Biologist dan Wildlife Curator Center for Orangutan Protection, Indira Nurul Qomariah, mengungkapkan hasil pengamatan awal terhadap kondisi kesehatan sejumlah satwa yang mengarah pada dugaan stres.

“Pada primata, termasuk orangutan dan monyet hitam, kebotakan di lengan dan kaki bawah dapat disebabkan oleh penyakit kulit, malnutrisi, atau stres akibat kebosanan maupun perilaku kompulsif seperti overgrooming,” jelas Indira.

Ia menambahkan, kebotakan juga bisa dipicu oleh faktor genetik seperti alopecia. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan medis serta observasi perilaku lanjutan untuk memastikan penyebab pastinya.

Selain primata, kondisi gajah juga menjadi perhatian. Indira menyebut salah satu gajah menunjukkan perilaku stereotip berupa swaying atau gerakan berulang tanpa tujuan yang kerap menjadi indikator stres.

“Perilaku tersebut bisa disebabkan oleh lingkungan yang kurang mendukung kesejahteraan satwa, seperti minimnya pengayaan atau tidak terpenuhinya kebutuhan sosial, termasuk bersosialisasi dengan gajah lain,” ujarnya.

Media Prancis Soroti Negosiasi Layvin Kurzawa dengan Persib: Transfer Comeback yang Tak Terduga

Menanggapi hal tersebut, Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i, menyatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesejahteraan satwa. Ia menegaskan pengelola rutin memberikan terapi pengayaan atau enrichment.

“Kami sudah melakukan terapi pengayaan dengan memberikan makanan yang berbeda-beda setiap hari dan menyimpannya di tempat yang bervariasi supaya rutinitas tidak monoton, sehingga satwa memiliki aktivitas. Selain itu, ada dua orang dokter yang terus memantau kondisi mereka,” ujar Sulhan, Selasa (20/1/2026).

Namun demikian, ia mengakui adanya tantangan, terutama keterbatasan luas kandang. Menurutnya, secara alami gajah dapat berjalan hingga puluhan kilometer per hari, sementara orangutan membutuhkan kanopi pepohonan yang luas sesuai habitat alaminya.

“Memang tantangannya ada pada keterbatasan lahan. Kebutuhan alami satwa di alam tentu jauh lebih luas dibandingkan kondisi di kebun binatang,” tandasnya

Sebelumnya, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, sempat melontarkan tiga konsep yang sedang dibahas soal masa depan Bandung Zoo yang sekarang masih dikaji bersama.

Hal itu disampaikan Farhan di balai kota Bandung Senin 12/1

1. Mempertahankan kawasan tersebut sebagai kebun binatang dengan konsep seperti saat ini.
2. Kebun binatang tetap ada namun dengan jumlah koleksi satwa yang lebih sedikit, sementara porsi ruang terbuka hijau (RTH) diperbesar.
3. Kawasan tersebut tidak lagi berfungsi sebagai kebun binatang, melainkan sepenuhnya menjadi ruang terbuka hijau

Exit mobile version