KORANMANDALA.COM –Super flu belakangan ramai diperbincangkan di Kota Bandung melalui media sosial dan pemberitaan. Isu tersebut memunculkan perhatian di tengah masyarakat, khususnya terkait aktivitas sosial di ruang publik.
Meski menjadi perhatian, kehidupan sosial warga Bandung sejauh ini masih berjalan normal. Interaksi antarwarga, mobilitas harian, serta aktivitas di ruang-ruang publik belum menunjukkan perubahan berarti.
Hingga saat ini, belum ada surat edaran atau kebijakan resmi dari pemerintah yang mengatur pembatasan aktivitas sosial terkait isu super flu.
Di sektor transportasi, pantauan di kawasan Halte Soekarno-Hatta menunjukkan angkutan umum masih beroperasi normal dengan tingkat keterisian penumpang yang stabil.
Atala (27) pengawas angkot feeder mengatakan jumlah penumpang tidak mengalami penurunan.
“Enggak berkurang penumpang juga. Tetap di depan satu penumpang, belakang delapan penumpang. Tidak mengganggu aktivitas perjalanan. Kita juga belum dapat surat edaran resmi tentang super flu, jadi aktivitas berjalan seperti biasanya,” ujarnya Kamis 15 Januari 2026.
Aktivitas sosial masyarakat juga tercermin di sektor ekonomi kecil. Di kawasan Kliningan, pelaku UMKM masih melayani pembeli seperti hari-hari biasa.
Tarno (49) penjuan Batagor di kawasan tersebut mengaku aktivitas berjualan dan interaksi dengan pelanggan belum mengalami perubahan sejak isu super flu ramai diperbincangkan.
“Masih sama seperti biasanya, belum ada perubahan. Pembeli juga masih datang seperti hari-hari normal,” ucapnya.
Ruang publik dan kawasan wisata pun masih menjadi tempat berkumpul warga. Di kawasan Braga, pengunjung terlihat tetap beraktivitas dan berinteraksi.
Alfin (21) pengunjung di kawasan Braga mengatakan isu super flu tidak terlalu memengaruhi keputusannya untuk tetap berkunjung.
“Selama kondisi tubuh sehat dan suasananya tidak terlalu ramai, saya merasa aman. Kalau sedang terlalu padat, apalagi pas libur panjang atau hari besar, saya biasanya memilih tidak datang dulu,” ujarnya.
Alfin menambahkan, sikap waspada tetap ada tanpa mengurangi aktivitas sosial secara signifikan. Menurutnya, masyarakat kini lebih mempertimbangkan kenyamanan dan kepadatan dibanding langsung membatasi aktivitas.
“Yang penting tidak sampai berdesakan. Selama masih nyaman, saya merasa aman-aman saja,” tambahnya. (Luqman Dwirizal Arifin/MG)
