Kamis, 26 Februari 2026 13:51

KORANMANDALA.COM –Penertiban yang kembali dilakukan Pemerintah Kota di kawasan Asia Afrika dan Braga menuai sorotan publik. Sejumlah warga menilai langkah tersebut terkesan hanya menata wajah kota tanpa disertai solusi jangka panjang bagi para tunawisma.

Sejumlah masyarakat mempertanyakan kejelasan nasib para tunawisma setelah ditertibkan. Salah satunya Antoni Dibaskara (30), seorang pekerja swasta yang kerap melintasi kawasan tersebut.

“Secara prinsip saya setuju. Bandung sebagai kota wisata memang harus terlihat rapi dan tertib,” ujar Antoni saat ditemui di sekitar lokasi, Kamis (15/1/2026).

Penataan Setengah Hati, BRT Bandung Terancam Jadi Wacana Ulang

Namun demikian, ia menilai penertiban semata tanpa solusi konkret tidak akan menyelesaikan persoalan. Menurutnya, pemindahan tunawisma tanpa penanganan lanjutan hanya akan memunculkan masalah yang sama di kemudian hari.

“Yang jadi pertanyaan, setelah ditertibkan mereka dibawa ke mana? Kalau hanya dipindahkan tanpa diberi solusi, pasti akan kembali lagi. Ini seperti memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” katanya.

Keresahan serupa juga disampaikan Dagor Albert (52), seorang pengemudi ojek daring yang sehari-hari beraktivitas di kawasan Asia Afrika dan Braga. Ia menilai penertiban kerap mengabaikan akar persoalan sosial yang dihadapi para tunawisma.

“Mereka bukan mau hidup di jalan. Tapi memang tidak punya pilihan—tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan,” ujar Dagor.

Kehidupan tunawisma di Bandung: rumah seadanya di tengah kawasan Jalan Adi Afrika yang terus berkembang. (Yusuf/ Koranmandala)

Menurutnya, tanpa adanya pembinaan, lapangan kerja, atau tempat penampungan yang layak, penertiban hanya bersifat sementara. “Kalau cuma ditertibkan tanpa ada pembinaan, ya sama saja bohong,” tambahnya.

Dagor juga menekankan bahwa sebagian besar tunawisma tidak mengganggu ketertiban umum, melainkan sekadar berusaha bertahan hidup.

“Mereka juga warga Bandung, juga manusia. Harusnya diberi solusi, bukan hanya disingkirkan supaya kawasan wisata kelihatan bersih,” tegasnya.

Hingga saat ini, Pemerintah Kota Bandung belum memberikan pernyataan resmi terkait mekanisme penanganan lanjutan maupun program berkelanjutan bagi tunawisma yang terdampak operasi penertiban tersebut.

Sementara itu, operasi penertiban masih terus dilakukan, terutama pada malam hingga dini hari, seiring meningkatnya intensitas kunjungan wisatawan ke kawasan Asia Afrika dan Braga.

“Kami ingin kota yang tertib, tapi juga manusiawi. Jangan sampai demi ketertiban, kita mengabaikan mereka yang justru membutuhkan pertolongan,” ujarnya. (Yusuf Ahmad/MG)

Koranmandala.com

Exit mobile version