ADVERTISEMENT
Di rumah singgah tersebut, Yeni bertemu ibu-ibu dari berbagai daerah di Jawa Barat, yang sama-sama tengah berjuang menyelamatkan buah hati mereka. Di antara tangis dan doa, mereka saling menguatkan, berbagi cerita, dan menumbuhkan harapan.
“Di sini saya sadar, ternyata banyak yang perjuangannya jauh lebih berat. Kami saling menyemangati. Rasanya seperti keluarga sendiri,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Febi harus merelakan banyak hal. Ia hanya sempat mengikuti sekolah selama dua minggu sebelum kemoterapi menjadi rutinitas barunya.
Masa remaja yang seharusnya diisi dengan canda bersama teman, kini berganti dengan ruang rawat, jarum infus, dan jadwal kontrol yang tak pernah ringan.
“Sebagai ibu, sedih melihat masa remajanya seperti terampas. Dia kangen sekolah, kangen main, kangen saudara-saudaranya di rumah,” kata Yeni lirih.
Meski demikian, harapan belum padam. Kondisi Febi perlahan menunjukkan perkembangan. Pengobatan terus berjalan, dan setiap hari dilalui dengan keyakinan bahwa kesembuhan bukan hal yang mustahil.
Yeni hanya memiliki satu doa sederhana: melihat putrinya kembali sehat dan menjalani hidup selayaknya anak-anak seusianya.
Di akhir ceritanya, Yeni menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Rumah Singgah Pejuang Kanker Ambu dan sang pendiri, Ambu Dewi Nurjana.
“Ambu itu benar-benar seperti malaikat buat kami. Perhatiannya luar biasa. Harapan saya, Ambu selalu sehat dan rumah singgah ini terus ada untuk ibu-ibu lain yang berjuang seperti saya,” ucapnya.
Di Rumah Singgah Pejuang Kanker Ambu, kisah Yeni dan Febi hanyalah satu dari sekian banyak cerita perjuangan.
Namun dari tempat sederhana inilah, harapan terus dirawat menguatkan para ibu, menjaga nyala semangat anak-anak pejuang kanker, dan membuktikan bahwa di tengah rasa sakit, masih ada cinta yang tak pernah menyerah.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






