ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Setiap pagi di sebuah rumah singgah sederhana di Kota Bandung, Yeni (44) membuka mata dengan doa yang sama. Doa agar putri semata wayangnya, Febi Putri, kembali tersenyum seperti anak-anak lain seusianya.
Febi baru berusia 13 tahun usia ketika seharusnya dunia dipenuhi sekolah, tawa, dan mimpi. Namun hidup memaksanya lebih cepat dewasa, berhadapan dengan penyakit yang tak pernah ia pilih: leukemia.
Perjuangan itu telah berlangsung enam bulan. Semuanya bermula dari demam tinggi yang tak kunjung reda. Yeni, perempuan asal Ciamis itu, awalnya mengira putrinya hanya kelelahan atau sakit biasa.
ADVERTISEMENT
Penataan PKL Jadi Kunci, Pakar ITB: BRT Bandung Tak Akan Berjalan Tanpa Jalur Steril
Namun hasil pemeriksaan laboratorium mengubah segalanya. Kadar hemoglobin Febi sangat rendah, memaksanya menjalani transfusi darah berulang kali di RSUD Ciamis. Alih-alih membaik, kondisi Febi justru terus menurun.
Ia kemudian dirujuk ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di sanalah jawaban paling menyesakkan dada itu datang.
“Setelah transfusi berkali-kali tapi HB-nya tetap turun, dokter menyarankan pemeriksaan sumsum tulang. Dari situlah baru ketahuan kalau anak saya leukemia,” ujar Yeni, suaranya pelan, seolah masih berusaha menerima kenyataan itu.
Bagi seorang ibu, tak ada kabar yang lebih menyakitkan. Dunia seakan runtuh. Yeni mengaku sempat terpukul, tak percaya, dan bertanya-tanya mengapa cobaan itu harus menimpa anaknya.
Namun di tengah keterbatasan dan kebingungan, secercah harapan datang dari cerita orang-orang yang ditemuinya di rumah sakit.
Dari dokter, perawat, hingga sesama orang tua pasien, Yeni mendengar tentang sebuah tempat bernama Rumah Singgah Pejuang Kanker Ambu.
“Banyak yang bilang, jangan bolak-balik ke kampung. Pengobatannya lama. Akhirnya saya memutuskan tinggal di rumah Ambu,” katanya.

Keputusan itu mengubah perjalanan hidup mereka.
Di Rumah Singgah Pejuang Kanker Ambu, Bandung, Yeni dan Febi tak hanya mendapatkan tempat berteduh. Mereka menemukan rumah kedua. Semua kebutuhan dasar difasilitasi tempat tinggal, makanan, kebutuhan harian, hingga ambulans yang siaga 24 jam untuk mengantar ke rumah sakit.
“Bahkan sabun, sampo, handuk, sampai obat-obatan yang tidak dicover rumah sakit juga ada. Ambulans selalu siap. Kami enggak boleh naik ojek atau jalan kaki,” tutur Yeni.
Namun yang paling berharga bukanlah fasilitas itu. Melainkan rasa saling menguatkan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






