ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Ketika persoalan sampah di wilayah Bandung Raya tak kunjung menemukan solusi sistemik, Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, memilih bergerak dari level paling dasar: rumah tangga.
Melalui program Samber Ceu Pilah (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah), Sarijadi mencoba menutup celah kegagalan pengelolaan sampah dengan pendekatan berbasis masyarakat.
Program ini tidak hanya diarahkan untuk mengubah perilaku warga, tetapi juga membuka peluang ekonomi dari pengolahan sampah rumah tangga sebuah pendekatan yang selama ini kerap digaungkan, namun minim realisasi di banyak wilayah Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
Persib Juara Paruh Musim, Persaingan Klasemen BRI Super League 2025/2026 Makin Panas
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Sarijadi, Uu Sukmana (53), mengatakan Samber Ceu Pilah lahir sebagai bentuk dukungan terhadap program unggulan Pemerintah Kota Bandung, Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan).
Namun, ia mengakui, tanpa inisiatif lokal yang konkret, slogan semata tidak akan berdampak di lapangan.
“Di Sarijadi ada inovasi, namanya Samber Ceu Pilah. Walaupun baru berjalan kurang lebih satu tahun, ini menjadi bentuk dukungan yang kami kolaborasikan terhadap Kang Pisman,” ujar Uu saat ditemui, Selasa (13/1).

Sasaran utama program ini adalah ibu rumah tangga kelompok yang selama ini paling dekat dengan sumber sampah, namun sering luput dari pendekatan kebijakan formal.
“Yang paling tahu jumlah dan jenis sampah itu ibu-ibu. Kalau mereka tidak dilibatkan, pengelolaan sampah dari sumber tidak akan jalan,” katanya.
Alih-alih sekadar sosialisasi normatif, pendekatan yang digunakan adalah praktik langsung. Menurut Uu, metode ceramah sudah tidak efektif, karena masyarakat telah terlalu sering dijejali teori tanpa pendampingan nyata.
“Kalau cuma sosialisasi, warga sudah bosan. Banyak yang sebenarnya mau mengolah sampah, tapi tidak tahu caranya,” ujarnya.
Dalam praktiknya, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk dijual ke bank sampah atau pengepul. Proses pengomposan dilakukan dengan metode sederhana, memanfaatkan bahan yang mudah dijumpai di lingkungan rumah.
“Sampah organik dikomposkan pakai tanah, daun kering, lalu disiram biomol. Satu sampai dua bulan sudah jadi,” kata Uu.

Dari proses tersebut, warga menghasilkan produk bernama Kompos Bumi Kita (Komika), yang berasal dari pengolahan sampah organik warga RT 08 RW 06 Sarijadi. Meski skalanya masih terbatas, kompos ini mulai dimanfaatkan sebagai media tanam dan sebagian dipasarkan.
“Minimal warga bisa menanam sendiri. Hasilnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Warga juga memproduksi biomol atau mikroorganisme lokal secara mandiri. Bahan-bahannya sederhana, mulai dari air cucian beras, gula merah, hingga terasi—contoh bahwa teknologi pengelolaan sampah tidak selalu harus mahal.
Namun di balik capaian tersebut, Uu tidak menutup mata terhadap tantangan utama program ini: mengubah kebiasaan lama masyarakat yang telah puluhan tahun bergantung pada pola buang-angkut-buang.
“Yang paling sulit itu mengubah kebiasaan. Dulu sampah dikumpulkan lalu dibuang. Sekarang harus dipilah dan diolah. Itu bukan hal mudah,” ungkapnya.
Untuk memaksa perubahan perilaku, sejumlah RW mulai menerapkan kebijakan tegas berupa jadwal pengangkutan sampah berdasarkan jenisnya.
“Ada RW yang Senin hanya ambil sampah organik, Selasa anorganik. Jadi warga mau tidak mau harus memilah,” jelasnya.
Saat ini, dari total 11 RW di Kelurahan Sarijadi, hampir seluruh wilayah telah mulai menjalankan Samber Ceu Pilah, meski tingkat partisipasi dan konsistensinya masih timpang.
“Minimal sudah ada satu atau dua RT di setiap RW yang aktif. Hasil penjualan sampah anorganik biasanya dipakai untuk kas RT atau kegiatan warga,” kata Uu.
Pemerintah kelurahan mengklaim hadir melalui dukungan sarana awal, meski dengan keterbatasan anggaran. Kolaborasi dilakukan dengan dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertamanan, terutama untuk mendukung program Buruan Sae.
“Kami tidak bisa memenuhi semua kebutuhan warga, tapi minimal kami hadir. Di lapangan, kuncinya kolaborasi,” tutupnya.
Program Samber Ceu Pilah menunjukkan bahwa solusi sampah berbasis komunitas masih relevan. Namun, upaya ini sekaligus menegaskan satu hal: tanpa kebijakan kota yang konsisten, dukungan anggaran yang memadai, dan sistem pengangkutan yang sejalan, inisiatif warga berisiko berjalan sendiri di tengah krisis sampah yang jauh lebih besar.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






