KORANMANDALA.COM – Penutupan total jalur akses warga di sekitar Flyover Nurtanio, Kota Bandung, sejak Selasa (6/1/2026), menyisakan kisah pilu bagi masyarakat sekitar. Jalan yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas warga kini terputus sepenuhnya, memaksa pelajar, mahasiswa, pejalan kaki, hingga pedagang kecil menghadapi kesulitan serius dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Tak adanya jalur penyeberangan membuat kawasan tersebut berubah menjadi “ruang terlarang” bagi warga. Mereka yang hendak menuju kawasan Husein Sastranegara kini harus memutar jauh, menambah ongkos, waktu, dan risiko.
“Yang mau nyebrang ke arah Husein enggak ada penyeberangan sama sekali. Anak-anak sekolah kasihan, mau nyetop angkot juga susah,” ujar Maman (48), warga sekitar, saat ditemui Rabu (7/1/2026).
Masih Ada Pekerjaan Beton, Arus Garuda ke Pajajaran Sementara Dialihkan ke Flyover Nurtanio
Menurut Maman, dampak penutupan ini paling dirasakan kelompok rentan. Pelajar dan mahasiswa yang tinggal di sekitar Flyover Nurtanio terpaksa mencari cara ekstrem demi bisa sampai ke tujuan.
“Ada mahasiswa yang sampai lewat gorong-gorong. Banyak yang ngekos di sini. Kalau harus muter, jalannya jauh, ongkosnya nambah,” katanya lirih.
Keluhan serupa disampaikan Udeng (57). Ia menilai penutupan total jalur tersebut tidak hanya memutus akses fisik, tetapi juga memutus denyut kehidupan sosial warga.
“Bukan cuma orang jalan kaki yang susah. Pedagang kecil juga sepi. Bahkan kalau ada warga meninggal, jenazahnya harus diputar jauh,” ujarnya.
Udeng menyebut kondisi tersebut sebagai ironi kemanusiaan. Di saat keamanan jalur kereta api dijaga ketat, kebutuhan dasar warga justru terabaikan.
Sementara itu, Jeri (45), warga lainnya, berharap pemerintah dan pihak terkait tidak menutup mata terhadap kondisi di lapangan. Ia mengusulkan solusi konkret agar akses warga tetap tersedia tanpa mengganggu keselamatan perjalanan kereta api.
“Minimal ada akses jalan kaki, lebarnya sekitar satu setengah sampai dua meter. Itu cukup untuk pejalan kaki dan keperluan darurat, termasuk kalau ada jenazah,” ujar Jeri.
Selain itu, ia juga mengusulkan sistem buka-tutup jalur pada jam-jam tertentu dengan pengawasan petugas keamanan.
“Kalau motor memang rawan, enggak usah. Tapi pejalan kaki masih bisa lewat, apalagi kalau dijaga satpam,” tambahnya.
Warga menegaskan mereka tidak menolak upaya pengamanan jalur kereta api. Namun, penutupan total tanpa solusi dinilai mengabaikan aspek sosial, pendidikan, dan kemanusiaan masyarakat sekitar.
“Keamanan penting, tapi kehidupan warga juga harus diperhatikan,” ujar seorang warga menutup keluhannya.
