Sabtu, 28 Februari 2026 1:48

KORANMANDALA.COM – Sunyi dini hari di RSUD Majalaya, Kabupaten Bandung, pecah oleh tragedi berdarah. Seorang petugas kebersihan, Fikri Ardiansyah (24), ditemukan tak bernyawa dengan tubuh bersimbah darah di sudut gudang lantai 2 Gedung Utama rumah sakit tersebut, Sabtu (3/1) sekitar pukul 04.30 WIB.

Nyawa Fikri direnggut secara brutal. Bukan oleh orang asing, melainkan oleh R (43), pria yang belakangan diketahui memiliki persoalan utang piutang dengan korban. Sebuah martil diduga menjadi alat pembunuh yang mengakhiri hidup pemuda 24 tahun itu di tempat ia mencari nafkah.

Kepolisian Daerah Jawa Barat mengungkapkan, pelaku akhirnya menyerahkan diri ke Polresta Bandung setelah kejadian menggemparkan tersebut.

Puncak Arus Balik ke Bandung, Polres Garut Terapkan One Way 18 Kali hingga Malam

“Pelaku datang sendiri dan mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap korban,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, di Bandung, Senin.

Tubuh korban pertama kali ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sudut ruangan gudang. Darah berceceran di sekitar lokasi, menandakan kekerasan hebat yang terjadi dalam waktu singkat namun mematikan.

Berdasarkan keterangan awal kepada penyidik, pelaku mengaku nekat menghabisi korban karena persoalan utang sekitar Rp5 juta yang tak kunjung terselesaikan. Emosi memuncak, martil pun diayunkan, dan tragedi tak terelakkan.

“Motif awal yang kami temukan adalah masalah utang piutang. Namun penyidik masih mendalami keterangan pelaku dan saksi,” kata Hendra.

Begitu menerima laporan, aparat Polsek Paseh bersama tim dari Polresta Bandung langsung bergerak ke lokasi kejadian. Olah TKP dilakukan di tengah kepanikan, memastikan korban telah meninggal dunia dan mengamankan sejumlah barang bukti.

Kini, kasus pembunuhan ini sepenuhnya ditangani Polresta Bandung. Polisi masih terus mengumpulkan keterangan saksi serta memperdalam rangkaian peristiwa yang berujung pada hilangnya nyawa seorang petugas kebersihan yang seharusnya pulang dengan selamat usai bekerja.

Di balik dinding rumah sakit yang identik dengan penyelamatan nyawa, sebuah nyawa justru melayang—meninggalkan duka, tanda tanya, dan peringatan bahwa konflik kecil bisa berujung pada tragedi besar.

Koranmandala.com

Exit mobile version