KORANMANDALA.COM – Kondisi keuangan Bandung Zoo masih memprihatinkan. Keterbatasan anggaran membuat kesejahteraan pegawai terdampak serius, bahkan gaji pegawai pada Desember 2025 lalu hanya mampu dibayarkan setengah dari jumlah seharusnya.
Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafii, mengakui pembayaran gaji tersebut sebagian besar bersumber dari donasi berbagai pihak, termasuk kebun binatang lain, lembaga, hingga inisiatif internal karyawan.
“Upah kami baru bisa dibayarkan setengah. Itu pun hasil dari kreativitas karyawan, salah satunya dengan membuka donasi. Alhamdulillah, banyak yang membantu,” kata Sulhan, Minggu (4/1/2026).
Gratis Dibuka, Bandung Zoo Diserbu Ribuan Pengunjung di Hari Terakhir Libur
Ia menjelaskan, yayasan pengelola Bandung Zoo saat ini sudah tidak mampu menanggung biaya operasional secara penuh, termasuk pembayaran gaji pegawai. Donasi yang terkumpul pun digunakan secara prioritas untuk kebutuhan paling mendesak, seperti pakan satwa dan upah karyawan.
Di tengah kondisi tersebut, pihak pengelola dan pegawai terus berupaya mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Sulhan menyebut, sejumlah pertemuan telah dilakukan dengan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Wali Kota Bandung, serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Salah satu opsi yang mengemuka adalah pembentukan tim pengelola sementara. Tim ini nantinya akan melibatkan BKSDA Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, serta unsur serikat pekerja, dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktorat Jenderal terkait.
“Tim sementara ini akan memiliki kewenangan penuh mengelola operasional, termasuk penjualan tiket dan pelaporan keuangan. Setiap pemasukan dan pengeluaran harus dilaporkan harian dan transparan ke publik,” jelasnya.
Selain pembentukan tim sementara, opsi lain yang tengah dibahas adalah perubahan status Bandung Zoo menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Namun, Sulhan menilai langkah tersebut membutuhkan proses panjang karena harus melalui pembahasan di DPRD dan pembentukan badan usaha baru.
“BUMD itu prosesnya tidak sebentar. Harus lewat rapat paripurna dan banyak tahapan administratif,” katanya.
Sementara menunggu kejelasan kebijakan, pegawai Bandung Zoo yang tergabung dalam serikat pekerja tetap menjalankan tugas perawatan satwa seperti biasa. Sulhan menegaskan, keberlangsungan pegawai menjadi hal krusial karena perawatan satwa membutuhkan keahlian khusus dan ikatan emosional (bonding) antara perawat dan satwa.
“Merawat satwa itu perlu bonding. Tidak bisa instan. Kalau langsung diganti orang baru, dampaknya bisa ke kondisi satwa,” ujarnya.
Hingga saat ini, pengelola dan karyawan Bandung Zoo masih menanti keputusan lanjutan dari pemerintah pusat dan daerah, sembari berharap solusi segera hadir demi keberlanjutan kesejahteraan pegawai dan keselamatan satwa.
