Kamis, 26 Februari 2026 12:22

KORANMANDALA.COM –Pembenahan Taman Hutan Kota (Baksil) oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota masih jauh dari kata tuntas.

Keterbatasan anggaran membuat perbaikan baru menyentuh area bagian depan taman, sementara sejumlah titik di bagian belakang masih dalam kondisi rusak dan rawan membahayakan pengunjung.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi DPKP Kota Bandung, Yuli Eka Dianti, mengakui bahwa penataan dilakukan secara bertahap dan belum mampu menjangkau seluruh kawasan taman yang menjadi salah satu ruang terbuka hijau ikonik di Kota Bandung itu.

Libur Nataru Tanpa Tiket Masuk, Kepedulian Pengunjung Banjiri Donasi Bandung Zoo

“Untuk tahap pertama ini memang baru area depan yang bisa kita perbaiki. Anggaran kita terbatas, jadi belum bisa menyeluruh,” ujar Yuli, Sabtu (3/12/2025).

Ia menyebutkan, kondisi sejumlah fasilitas di area belakang taman masih memprihatinkan. Beberapa bagian lantai dan struktur penahan tanah dilaporkan berlubang dan rusak, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung. Perbaikan sementara dilakukan dengan memanfaatkan tenaga petugas yang ada, tanpa pekerjaan konstruksi besar.

Salah satu persoalan mendasar yang baru ditangani adalah akses masuk taman. Selama ini, Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi tidak memiliki gerbang atau penanda yang jelas, sehingga kerap membingungkan pengunjung dan dinilai mencerminkan lemahnya penataan kawasan publik.

“Selama ini orang sering tidak tahu pintu masuknya di mana. Maka sekarang kita bangun gerbang sebagai penanda resmi,” kata Yuli.

Selain itu, DPKP juga membangun dinding pembatas antara area taman dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Keberadaan TPST yang berdekatan dengan kawasan wisata dinilai mengganggu kenyamanan visual dan menimbulkan kekhawatiran dari sisi keamanan.

Masalah lain yang disorot adalah kondisi kirmir atau penahan tanah yang sebelumnya masih berupa tanah mentah dan rawan longsor. Aktivitas pedagang di sekitar lokasi memperparah risiko kerusakan struktur tanah tersebut.

“Sudah mulai bergerak dan berisiko longsor. Ini yang kita perbaiki agar tidak membahayakan pengunjung,” jelasnya.

Sementara itu, perbaikan fasilitas dasar seperti musala, toilet, dan kolam air dilakukan secara terbatas. Penambahan lampu penerangan juga baru dilakukan di beberapa titik, sehingga sebagian area taman masih minim pencahayaan pada malam hari dan rawan dari sisi keamanan.

DPKP menargetkan kelanjutan pembenahan pada 2026. Namun, realisasi rencana tersebut tetap bergantung pada ketersediaan anggaran, di tengah tingginya ekspektasi publik terhadap kualitas ruang terbuka hijau di Kota Bandung.

“Semua memang harus bertahap. Area yang belum tersentuh akan kita lanjutkan tahun depan, kalau anggaran memungkinkan,” tandas Yuli.

Koranmandala.com

Exit mobile version