Jumat, 27 Februari 2026 1:30

KORANMANDALA.COM kerap dipromosikan sebagai Kota Kembang: indah, kreatif, dan penuh denyut ekonomi urban. Namun di balik etalase wisata, kafe estetik, dan pusat perbelanjaan yang ramai, masih ada kelompok masyarakat yang berjuang bertahan hidup di ruang-ruang kota yang kian sempit.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung mencatat, sekitar 3,87 persen penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan per Maret 2024. Angka itu mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi di lapangan, kemiskinan memiliki wajah dan cerita yang nyata.

Kaum marginal mereka yang berada di lapisan sosial ekonomi paling rentan umumnya bekerja di sektor informal dengan penghasilan tak menentu. Akses terhadap pekerjaan layak, perlindungan sosial, hingga hunian yang aman masih menjadi kemewahan bagi banyak dari mereka.

5.521 Angkot di Bandung Terdampak Peliburan, Pemerintah Kucurkan Rp5,5 Miliar Kompensasi

Bertahan dari Sampah Kota

A. Habib (50), pemulung asal Cianjur, adalah salah satunya. Lima tahun terakhir ia merantau ke Bandung bersama istrinya, mengais plastik dan barang bekas demi sekadar menyambung hidup.

“Penghasilan enggak tentu. Sehari paling dapat Rp50 ribu, itu juga berdua sama istri. Buat makan aja, enggak lebih,” kata Habib lirih.

Potret itu tergambar dari kehidupan A. Habib (50), pemulung asal Cianjur (Sarah/Koranmandala)

Anak-anaknya dititipkan di kampung halaman. Hidup berpindah-pindah membuatnya tak pernah tersentuh bantuan pemerintah. Ketika tak mampu menyewa tempat tinggal, emperan toko menjadi ruang istirahat sementara.

Menjelang 2026, harapan Habib sederhana: modal kecil agar bisa pulang kampung dan berdagang.

“Semoga tahun depan ada modal, jadi bisa pulang kampung, hidup lebih pasti,” ujarnya.

Becak yang Kian Sepi

Nasib serupa dialami Agus (65), tukang becak asal Pasir Koja, Kota Bandung. Selama lebih dari satu dekade menarik becak, ia merasakan langsung perubahan wajah transportasi kota.

“Keluar rumah dari jam lima subuh sampai jam sebelas siang kadang belum dapat penumpang. Sekarang bisa dari pagi sampai siang nol pendapatan,” tuturnya.

Agus (65), tukang becak asal Pasir Koja, Kota Bandung (Sarah/Koranmandala)

Agus mengaku pendapatannya terus menurun sejak transportasi daring menjamur. Ironisnya, di masa pandemi Covid-19, ia justru masih bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu per hari.

Dari penghasilan yang tak menentu itu, Agus masih harus menyisihkan setoran becak Rp10 ribu per hari dan membayar kontrakan Rp400 ribu per bulan. Usia yang menua membuatnya sadar, becak bukan lagi sandaran masa depan.

“Kalau ada modal, pengin dagang. Misalnya jualan bakso dekat rumah. Becak mah sudah enggak kuat,” katanya, menatap tahun 2026 dengan harapan baru.

Berdamai dengan Usia

Berbeda dengan Habib dan Agus, Abah Baron (75), pedagang asongan kopi asal Cicahem, memilih berdamai dengan hidup. Sejak tahun 2000 ia berjualan kopi keliling, dengan pendapatan yang tak pernah pasti.

“Kadang ada, kadang enggak. Sehari paling Rp50 ribu sampai Rp100 ribu,” ucapnya singkat.

Di usia senja, Abah tak lagi bicara soal target atau ambisi. Tahun 2026 baginya bukan tentang perubahan besar, melainkan ketenangan.

Abah Baron (75), pedagang asongan kopi asal Cicahem (Sarah/Koranmandala)

“Abah sudah tua. Kerja sudah jadi bagian hidup. Serius tapi santai. Mundur maju tergantung diri sendiri. Abah memilih tenang,” katanya.

Bagi Abah, rezeki bukan diukur dari besar kecil angka, melainkan keberkahannya.

“Sedikit tapi dimakan enak, badan sehat. Kalau besar tapi enggak manfaat, buat apa,” pungkasnya.

Antara Harapan dan Kebijakan

Tiga kisah ini memperlihatkan potret kaum marginal Kota Bandung: bekerja keras tanpa jaminan, bertahan di sela-sela pembangunan kota, dan menggantungkan harapan pada kebijakan yang lebih berpihak.

Benang merahnya jelas kebutuhan akan modal usaha kecil, akses bantuan sosial yang adil, dan perlindungan bagi pekerja sektor informal. Tanpa itu, julukan Kota Kembang akan terus kontras dengan realitas sebagian warganya yang masih berjuang sekadar untuk hidup.

Exit mobile version